Pages

Saturday, November 24, 2012

Bloody Rose

cerpen karya sesorang yang sangat spesial dihati saya nih sob..
mohon kritik dan sarannya yah..
langsung aja deh cekibrot....


 


Pagi yang cerah. Mentari bersinar di ufuk timur bermandikan cahaya merah keemasan. Burung-burung camar terbang rendah di atas permukaan air danau yang tenang dan sesekali menyambar sesuatu di permukaannya. Angin sepoi-sepoi bertiup dari danau itu menuju ke arah bukit yang terdapat villa penduduk.
Danau itu dikelilingi oleh perbukitan kecil yang di atasnya dibangun villa-villa mewah yang biasa disewakan kepada pengunjung danau itu. Villa-villa itu seluruhnya menghadap ke arah danau sehingga terlihat seperti benteng pembatas pada sungai agar tidak jebol sewaktu hujan turun melimpah. Jarak antara villa-villa itu dengan danau cukup jauh, sekitar 164 kaki. Ada sebuah jalan yang diberi paving block di sepanjang jarak itu. Cukup untuk memuat sebuah mobil travel ataupun mobil pribadi para pengunjung.
Di pintu masuk perbukitan itu juga ada sebuah pos satpam jaga 24 jam. Setiap pengunjung yang akan bermalam ataupun tidak di daerah itu wajib melapor kepada satpam jaga di sana agar terjamin keselamatan jiwa dan harta bendanya. Tak ada yang menjamin keselamatan pengunjung jika tidak melapor kepada penjaga itu. Apalagi sekarang sedang liburan musim panas sehingga pengunjung lebih banyak daripada biasanya. Hal ini membuat peluang beraksinya orang jahat semakin besar.
Pagi yang sejuk seperti sekarang paling enak untuk berjalan-jalan dan menikmati pemandangan di sekitar danau yang indah. Jadi tidak mengherankan jika banyak orang yang keluar rumah entah sekedar jalan-jalan keliling atau jogging dan melemaskan tubuh sebelum beraktivitas di sekitar danau yang tenang itu.
Banyak pengunjung yang mulai berdatangan dari berbagai daerah untuk menikmati keindahan atau berlibur di tempat itu. Villa-villa yang biasanya sepi kini ramai dengan para pengunjung. Mobil-mobil sudah mulai banyak berdatangan dari berbagai penjuru.
Tak terkecuali sebuah mobil berwarna biru metalik yang dikendarai oleh 3 orang remaja. Mobil itu sedikit merapat ke pos penjaga dan melapor atas kedatangan mereka.
“Pagi, pak Galih?” sapa si pemegang kemudi dengan akrab kepada penjaga pos pagi ini yang sedang mengetik di komputer. Rupanya dia kenal dengan penjaganya.
“Pagi...” si pemilik nama Galih itu mengalihkan pandangannya dari komputer ke suara orang yang menyapanya. Keningnya sedikit berkerut. Berusaha mengingat siapa nama anak laki-laki yang kelihatannya familiar itu.
“Maaf kamu siapa yah? Sepertinya saya kenal.. ” katanya sambil berpikir dan mengamati anak laki-laki itu. Ada sesuatu yang membuatnya ingat kepada anak itu.
Finished, El?” tiba-tiba sebuah suara anak perempuan dari dalam mobil itu memanggilnya. El? Sepertinya aku pernah dengar sebelumnya. Jangan-jangan... hatinya tiba-tiba merasa sejuk dan bahagia.
Just moment! ”, jawabnya pendek tanpa menengok ke suara yang memanggilnya.
“Kamu Elvian Marvin?”, akhirnya penjaga pos itu menjawab dengan ragu. El menjawabnya dengan mengangguk dan tersenyum. Si penjaga itu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dulu saat pertama kali El diajak dan dititipin ke tempat kerjanya itu masih SMP kelas 1 dan masih kecil. Tapi sekarang setelah 4 tahun tidak pernah ketemu dengan anak nakal itu lagi dia benar-benar tidak mengenalnya. Seluruh fisiknya berubah. Hanya mata hijaunya saja yang membuatnya percaya dan mengingatnya. Mata itulah yang diturunkan oleh ayahnya, Rio Marvin, yang berkebangsaan Jerman. Dulu dia tinggal di villa itu selama 3 tahun bersama ibunya, lalu setelah lulus SMP pindah lagi karena harus ikut ayahnya ke Amerika dan melanjutkan sekolah di sana.
“Masih ingat saya, Pak?”, tanyanya dengan logatnya yang khas sambil tersenyum dan turun dari mobilnya.
“Tentu lah. Tak ada anak secerdas dan senakal kamu disini. Hahaha.... “ jawab pak Galih itu sambil berkelakar.
El hanya tersenyum malu.
“Bagaimana kabarnya Pak Marvin, El? Masih di Amrik sekarang?” orang tua itu kembali bertanya setelah tawanya reda.
“Baik aja, pak. Iya, papa masih di Amrik. Sekarang lagi buka cabang baru lagi disana”.
“Wah, hebat. Bapak sangat kagum dengan ayahmu itu. Walaupun punya banyak uang tapi tidak pernah sombong ataupun pelit dengan orang lain yang sedang kesusahan. Sudah jarang sekali orang yang seperti itu pada zaman sekarang”, kata pak Galih dengan sesekali menggoyang goyangkan kepalanya sebagai tanda takjub.
El hanya tersenyum mendengarnya. Tak menjawab apa-apa.
“Hei, kamu masih kaya dulu yah? Pendiam. Kalau nda ditanya ya cuma manggut manggut dan tersenyum. El... el....” Pa Galih paling senang dengan sikap dia yang satu ini. Tidak banyak bicara tapi banyak tingkah, katanya suatu hari.
“Kamu mau nginep berapa hari disini?” tiba-tiba dia ingat harus mencatat data pengunjung hari ini, tak terkecuali mantan anak angkatnya yang sudah tumbuh besar itu.
“Dua minggu saja pak. Soalnya tengah bulan saya harus balik lagi ke Amrik buat nyiapin sekolah minggu depannya.” Jawab El setengah menjelaskan bahwa dia hanya libur satu bulan di musim panas bulan ini.
“Baiklah. Untuk berapa orang?” katanya dengan mencatat di buku tamu.
“Tiga orang. Atas nama saya, Rahula Virny dan Rein Makoto”,
“Laki-laki semua?”
“Tidak. Satu cewek”
“Siapa?” tanya pa Galih heran.
“Rein”
“Oh, Rein itu perempuan yah? Bapak kira laki-laki. Hehe maaf yah?”
“Iya tidak apa-apa ko, Pak. Dia anak negeri Sakura. Ini kartu pengenal dan paspor kita”, jelas El sambil menyerahkan tiga buah kartu pengenal Amerika dan paspor karena mereka tidak mempunyai KTP setempat.
“Baik, sebentar saya catat dulu nomornya”.
El hanya melihat tangan tuanya yang begitu lincah menari-nari di atas tuts keyboard komputer.
How long, El? I’m so tired,” gadis di dalam mobil itu kembali bersuara. Logat bahasa Inggrisnya agak aneh. El diam tak menyahut. Menunggu Pak Galih selesai menyalin identitas mereka.
Karena tak sabar menunggu dan tak ada jawaban akhirnya gadis itu keluar dari mobil dan menghampiri El. Rambutnya yang lurus sebahu berkibar ditiup angin. Penampilannya yang berbeda dari anak-anak asli daerah itu membuatnya menjadi sorotan orang di sekelilingnya. Kulitnya yang putih dibalut dengan jaket hitam almamater sekolah dan baju putih di dalamnya yang berkerah serta berpita di ujungnya membuatnya tampak begitu cantik. Apalagi dengan model rok mini berlipit yang hanya sampai pahanya membuat orang yang tak pernah melihatnya merasa akan copot matanya. Kaos kaki hitam yang dipakainya hingga diatas lutut pun membuat kakinya terlihat lebih ramping dan indah.
“Belum selesai, El?” tanyanya saat sudah di samping El sambil melihat pak Galih sedang mengetik identitas mereka. El hanya mengedikkan bahunya.
“They all look at you, Re ”, bisik El kepada Rein tanpa melihat ke orang-orang di sekelilingnya.
Rein melihat ke sekelilingnya dengan heran.
“Dousite?” (Kenapa?)
“Wakarimasen”, lagi-lagi dia hanya mengedikkan bahunya.
Seakan mengerti apa yang dibicarakan oleh dua anak remaja itu pak Galih menjawab sambil keluar dari ruang loketnya.
“Pakaian yang kamu kenakan bagi kami itu aneh, nak. Disini tidak ada yang menggunakan rok mini seperti itu. Apalagi anak seusiamu” kata pak Galih dengan bahasa Inggisnya yang ternyata juga fasih. Rein mengangguk-angguk mengerti.
“Thank you, Sir. I’m sorry very much

***


Mereka sampai di villa orangtua El tepat pada sore hari pukul 16.00.
El, Rein, dan Rahula langsung disambut oleh seorang wanita setengah baya yang mengurus villa itu.
“Eh, nak El. Ayo silahkan masuk..” kata wanita itu menyambut kedatangan mereka dengan senyum yang ramah lalu mengambil tas yang mereka bawa.
“Ini kamar mbak Rein dan Rahula” kata wanita yang telah lama mengenal kedua teman majikan mudanya itu sambil membukakan sebuah pintu kamar tamu. Aroma sejuk AC dan harum bunga mawar merah langsung tercium begitu pintu terbuka. Raut muka bibi sedikit terkejut sesaat. Hanya El yang melihatnya sekilas karena kemudian wajah bibi kembali seperti biasa.
Rein, Rahula dan bibi masuk ke dalam kamar itu sementara El menunggu di luar sambil bersandar di dinding dengan kedua tangan sebagai tumpuan kepalanya. Matanya meneliti setiap sudut di rumah yang telah lama tidak dikunjunginya itu. Dia tak terlalu memikirkan perubahan raut wajah bibi. Tapi dia heran sejak kapan bibinya menyukai aroma mawar? Sebuah pertanyaan besar buatnya.
Dari tempat berdirinya itu dia bisa melihat tukang kebunnya di halaman belakang sedang memotongi rumput yang mulai panjang di sekitar taman air mancur. Dihampirinya laki-laki yang sejak kecil sudah menjadi ayah keduanya itu.
“Sore Pak?” Laki-laki yang sedang berjongkok tak jauh dari kolam air mancur itu sedikit terkejut.
“Eh nak El?” laki-laki itu langsung menengok ke arah asal suara dan berdiri. Wajahnya terlihat kaget.
“Bagaimana kabar bapak? Sehat?” tanya El sambil merangkul laki-laki yang makin bertambah usia itu.
“Iya baik, nak. Nak El sendiri bagaimana? Tambah besar dan ganteng sekarang yah. Haha...” kata laki-laki itu dengan tawa khasnya.
“Baik juga pak”. Mereka pun berbincang banyak hal sambil melepas rindu.
Sementara dari dalam kamar tamu terdengar suara Rahula mendecak kagum dengan apa yang dilihatnya.
“Waaaw.... indah banget, Re!” katanya sambil melihat ke luar jendela kamar itu. Hamparan pohon-pohon yang tinggi dari jauh membentuk seperti sebuah bukit.
“Hati-hati kalau naruh barang di tepi jendela itu ya mbak? Takut nanti jatuh ke dalam tebing” ujar bibi sambil menunjuk ke tumpukan rumput di samping tembok vila itu. ”Kalau sudah jatuh ke sana susah ngambilnya” lanjutnya sambil menata tas koper di samping sebuah lemari besar di kamar itu.
“Disana jurang, bi?” tanya Rein yang belum pernah menginap di vila itu sambil menunjuk ke arah luar jendela.
Bibi mengangguk. “Iya. Tapi ada jarak sekitar 1,5 meter dari batas vila ini dengan jurang itu”.
Rein menghampiri Rahula yang sedang menatap pemandangan di luar sana. Dia berdiri di samping Rahula dengan memegang sisi-sisi bawah tepi jendela sambil menutup matanya dan menghirup udara segar yang masih alami itu. Tapi tiba-tiba dia mencium sesuatu yang aneh dalam kesegaran itu. Bau wangi bunga mawar yang begitu menusuk.. dan bau anyir seperti..... darah! Dia segera membuka matanya tepat saat sesuatu mencekal pergelangan tangannya dengan kuat.
“Ada apa Ra?” tanya Rein kaget.
“Ada sesuatu yang bergerak di bawah sana”, jawab Rahula dengan wajah yang begitu ketakutan. Telunjuknya mengarah pada semak belukar tepat membentuk sudut 90 derajat dari jendela kamar itu.
“Mana?” Rein mengikuti arah telunjuk Rahula untuk memastikan. Jantungnya mulai berdegup kencang karena ketakutan. Tidak ada apa-apa.
“Tidak ada apa-apa ko Ra..” kata Rein setelah memastikan tak ada sesuatu yang aneh di sana. Dia menekan perasaan was-was dalam hatinya. Ada firasat yang tak baik.
“Tapi tadi ada yang gerak di bawah sana!” Rahula berkata ngotot.
“Ada apa?” tanya bibi sambil mendekati mereka.
“Ada sesuatu di bawah sana yang bergerak, bi” jelas Rahula sambil menunjuk ke tempat yang tadi dia tunjukkan ke Rein.
“Mana?” tatapan bibi mengikuti arah yang ditunjuk Rahula tadi.
“Tidak ada apa-apa kan bi?” kata Rein memastikan pada penglihatannya.
“Iya. Tidak ada apa-apa” sahut bibi sambil menatap mata Rahula. Rahula kembali menatapnya dengan tatapan yakin. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres.
“Tapi tadi aku lihat disana ada sesuatu yang bergerak!” Rahula tetap ngotot dengan pendiriannya.
“Mungkin cuma angin yang lewat”, kata bibi meredakan suasana mereka dan hatinya yang mulai berdesir cepat.
“Iya Ra.. mungkin cuma angin yang lewat aja dari bawah. Ini kan perbukitan? Jadi kita tidak usah memikirkan hal yang seperti itu” dukung Rein dengan pendapat bibi. Tapi tadi dia sempat melihat sekilas tatapan aneh dari bibi. Seperti ketakutan, tapi hanya sebentar karena bibi pintar menyembunyikan perasaanya.
“Ya sudah, sekarang kalian istirahat dulu yah? Kalau mau mandi disitu ada kamar mandi” kata bibi menunjuk ke sebuah pintu di sebelah kanan kamar. Lalu berjalan keluar.
“Iya bi, terima kasih” angguk Rein sambil menatap kepergian bibi itu.
“Eh ya, nanti kalau kalian lapar ke belakang saja dan cari bibi yah? Nanti bibi hangatkan masakan untuk makan kalian”, ujarnya sebelum menutup pintu. Rein hanya mengangguk dan tersenyum.
“Terima kasih”.
***
“Eh iya pak. Ada sesuatu yang mau saya tanyakan kepada bapak”, ujar El kepada laki-laki tukang kebunnya itu setelah melepas rindunya selesai.
“Iya tanyakan saja”.
“Sejak kapan bibi mengganti pengharum ruangan dengan bau mawar merah?”
Laki-laki itu mengerutkan dahinya seperti berpikir. Lalu matanya membelalak seperti melihat sesuatu yang mengejutkan seperti tadi saat dia menyapanya.
“Ada apa pak?” tanya El penasaran. Wajahnya menatap laki-laki itu dengan serius.
Laki-laki itu hanya diam dan menundukkan matanya ke cangkul yang dipegangnya.
“Maafkan bapak, El” laki-laki itu menjawab dengan lirih.
“Kenapa minta maaf, Pak?” kejar El makin penasaran
Diam. El mencoba memberinya waktu untuk berpikir. Tak lama laki-laki itu mengangkat matanya dan menatap El.
“Ceritakan saja, Pak” desaknya lembut.
Laki-laki  itu mengangguk. “Semuanya berawal dari satu minggu yang lalu, nak. Saat kami sedang membereskan vila ini kami mencium wangi mawar merah dari ruang kamar tamu itu. Lalu kami mencari sumber bau itu karena bibi paling tidak tahan dengan bau mawar merah. Kemudian tak lama setelah menyisiri seluruh rumah ini kami menemukan sumber itu dan sesuatu yang sangat mengerikan”. Laki-laki itu berhenti agak lama. El menunggu dengan sabar kelanjutan ceritanya.
“Kami menemukan seorang anak laki-laki seusiamu tergeletak di bawah kamar tamu itu dalam keadaan sekarat. Namanya Fujikaze Ozawa, anak pengusaha terkaya di kota ini yang berasal dari Jepang itu. Dari mulutnya tercium bau alkohol yang sangat menyengat. Di samping tubuhnya ada seikat mawar merah tak berduri. Kalau tidak salah sekitar 14 tangkai. Mawar itu jenis yang sangat langka di sini. Tak ada yang menanam mawar seperti itu. Kami kira itu hanyalah orang yang usil membuang mawar di tempat seperti itu. Jadi kami pun tak mempedulikan mawar tersebut. Kami hanya menghawatirkan keadaan anak itu.”
“Darahnya terus keluar dari belakang tubuhnya hingga ketika di perjalanan ke klinik terdekat dia sudah menghembuskan nafasnya yang terakhir.”
“Namun sebelum meninggal dia mengatakan satu hal yang tidak pernah kami mengerti sampai sekarang.” Bapak itu berhenti lagi sebentar.
“Apa pak?” El penasaran sehingga dia menyela cerita laki-laki itu.
“Ia terus mengatakan ‘Rose’ pada nafas-nafas terakhirnya. Kami tidak begitu mengerti maksud perkataannya itu. Kami pikir dia menyuruh kami untuk menyimpan bunga mawar yang tergeletak di sampingnya saat kami menemukannya dulu. Jadi bapak dan bibi pun menanamnya di taman ini. Kami merawatnya dengan baik. Tapi sayangnya bunga itu tak lama hidup. Tiga hari kemudian bunga itu akhirnya layu dan mati.” Laki-laki itupun terdiam.
“Apa anak itu tidak diotopsi pak?” tanya El setelah tak ada lanjutan ceritanya lagi.
“Tidak. Kami pikir dia hanya meninggal karena kecelakaan saja jadi tidak perlu otopsi. Di sini sudah umum jika ada seorang pemuda meninggal dalam keadaan babak belur dan mabuk begitu. Jadi kami langsung mengembalikan kepada pihak keluarganya.”
“Lalu?”
“Tiga hari kemudian saat bunga mawar itu mati kami mencium baunya kembali di bawah kamar itu. Saat itu bibi mau membereskan kamar tamu karena akan digunakan. Ketika bibi sedang membuka jendela, bau itu tercium kembali. Bibi yang sudah hafal dengan bau wangi itu segera memanggil bapak yang sedang memotongi tanaman disini. Kami pun segera turun bersama untuk melihat apa yang telah terjadi.”
“Kami menemukan mayat di tempat yang sama dengan tiga hari yang lalu. Hanya saja sekarang adalah seorang gadis berusia 20 tahunan. Dia juga dari keluarga Fujikaze. Namanya Fujikaze Ao. Dia adalah kakak dari Ozawa. Kondisi fisik yang kami temukan sama dengan saudaranya saat ditemukan. Ada mawar di samping tubuhnya. Hanya saja ini 2 tangkai. Di dadanya ada bekas tusukan benda tajam tepat di jantung sebelah kirinya. Sebuah tikaman dari pisau bermata tiga rupanya telah membuat nyawanya melayang.”
“Kenapa bapak tahu itu tikaman pisau bermata tiga?” El bertanya menyela.
“Polisi telah mengotopsi jenazahnya dan mengatakannya seperti itu. Tapi sayangnya senjata mengerikan itu sampai sekarang belum ditemukan. Seluruh penduduk di sini sudah diperiksa namun belum ada hasil yang memuaskan.”
“Berarti pelaku pembunuhan itu belum terangkap Pak?”
“Belum.”
“Tapi sepertinya saya tadi tidak menemukan seorang polisi pun melintas atau setidaknya mengamati para penduduk dan aktivitas mereka.”
“Iya itu wajar. Karena kasus itu sudah ditutup dua hari yang lalu. Orang tua korban yang adalah orang terkenal di seluruh pelosok negeri ini tidak mau namanya tercoreng dalam dunia bisnis hanya kasus kematian anaknya yang tidak wajar alias dengan cara pembunuhan itu. Apalagi polisi disini dalam menangani kasus pembunuhan seperti itu sangat lamban.”
“Oh sudah ditutup yah? Ya itu sangat wajar jika dia orang tua yang tidak peduli dengan anak-anaknya.” Ujar El tanpa ekspresi sambil menatap pohon yang berbentuk gapura di seberangnya.
Bapak itu terkejut dengan kata-kata yang barusan El katakan. Matanya sedikit melotot karena tersinggung. El lalu berjalan ke arah ‘gapura’ yang tadi dilihatnya. Tak peduli bagaimana ekspresi orang yang di belakangnya itu. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celananya dan melangkah dengan tenang ke sana.
Dia baru melihat ada sebuah gapura di vila lamanya. Seingatnya dulu waktu dia masih tinggal disini tak ada pohon gapura seperti itu. Matanya mengamati pohon itu dari dekat. Gapura itu tersusun dari pohon hias yang dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai sebuah gapura atau gerbang pintu masuk. Bagian atasnya menjulang lancip menyerupai mahkota dan terdapat bunga-bunga kecil di sekelilingnya.
Bagian luar dari gapura itu berbatasan dengan tebing yang dalam. Ada jalan setapak untuk menyusurinya. Jalan itu dibatasi dengan sebuah kawat besi berduri sepanjang tepinya. Kawat itu tipis namun kuat. Kalau tidak berhati-hati bisa melukai kaki.
“Mau kemana nak?” tanya bapak itu tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
El menengok ke arahnya. “Mau ke sana, Pak. Sepertinya ada sesuatu yang memanggilku ke tempat itu”, jawabnya menunjuk ke tempat rerimbunan semak belukar. Bapak itu terkejut karena di tempat itulah dia dan istrinya menemukan kedua mayat kakak beradik keluarga Edward.
“Ke sana?” tanyanya tak percaya. El mengangguk sambil melangkah ke depan.
“Hati-hati, Bapak temani ya”. Akhirnya berdua dengan bapak itu El menyusuri jalan setapak menuju ke tempat dua mayat yang ditemukan dalam seminggu ini.
Tiba-tiba dalam jarak tak lebih dari 2 meter angin berhembus ke arah mereka dan membawa sebuah aroma yang tak asing bagi laki-laki tukang kebun itu. Mereka mencium sesuatu yang aneh. Bau mawar yang harum menyengat. Tepat di bawah kamar tamu yang sekarang ditempati Rein dan Rahula. El mempercepat langkahnya mendekati semak-semak itu. Sesuatu yang mengkilap memantulkan cahaya matahari senja.
“Aaaahh!!!!” Rahula berteriak keras di tepi jendela yang terbuka itu. Matanya melotot ke bawah dan tangannya bergetar hebat hingga tempat bedak yang dipegangnya jatuh tepat di hadapan El.
“Ada apa Ra?” Rein yang sedang menyisir rambutnya sehabis mandi di depan cermin berhenti sejenak melihat sahabatnya itu berteriak seperti orang ketakutan.
“Woi jangan ngagetin gitu dong?” teriak El dari bawah karena hampir saja bedak itu mengenai kepalanya.
Rein segera mendekat ke Rahula dan melihat apa yang ada di bawah sana. Dia melihat El bersama seorang laki-laki yang berpakaian kotor penuh lumpur yang dikenalnya sebagai tukang kebun di vila ini.
“El? Kenapa kamu di situ?” tanya Rein dengan sedikit keras.
El mendongakkan kepala ke atas, menatap mata gadis yang bertanya itu. “Ada sesuatu yang membuatku ke sini” jawabnya tegas. Seolah mengerti bahasa mata El, Rein pun segera menyusul ke tempat El. Rahula tak mau kalah. Dia pun mengikuti Rein di belakangnya.
“Ada apa El?” tanya Rein setelah sampai di bawah kamar mereka.
“Kamu mencium sesuatu?” El balik bertanya. Matanya mencari-cari sesuatu di sekitar rerimbunan semak.
“Iya. Aku mencium sesuatu yang baunya seperti.... astaga! Mawar! Mawar dalam hutan?” kalimat terakhirnyalah yang membuat lainnya mengernyitkan dahi.
El mengangguk. Lalu dia maju satu langkah ke depannya, berjongkok di atas batas kawat berduri itu dan menyibak semak yang tebal itu dengan sebuah ranting besar yang ada di depannya. Sebuah pemandangan mengerikan terhampar di depan keempat orang itu. Rahula menjerit tertahan.
Seorang laki-laki berjas rapi tergeletak dengan kepala terkulai, tubuhnya bermandikan darah. Sebuah peluru sepertinya telah menembus jantungnya sehingga membuatnya langsung tak bekerja untuk selamanya. Matanya melotot ke atas dan mulutnya membuka seperti hendak mengatakan sesuatu yang terhenti sebelum terucapkan.
“Siapa dia Pak?” tanya El kepada bapak yang di belakangnya. Laki-laki itu mendekat hendak menyentuh mayat itu namun segera dicegah El.
“Jangan sentuh apapun di sekitar sini” katanya kepada bapak itu.
Rein terlihat sedang menelepon kantor polisi setempat. Rahula memotret kondisi korban dengan kamera handphonenya. Laki-laki tua itu kelihatan sangat terpukul.
“Apa yang akan aku katakan kepada tuan Marfin jika beliau tahu disini telah ditemukan mayat sampai ketiga kalinya?” bapak itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan suaranya terdengar begitu takut dan khawatir.
El mendekat kepadanya dan memegang pundaknya untuk menenangkannya. “Sudahlah pak. Semua ini bukan salah bapak. Otousan pasti akan mengerti,” katanya sambil tersenyum untuk meyakinkan laki-laki yang sudah mulai renta itu.
“Sebentar lagi polisi akan datang, El” kata Rein sambil melipat handphonenya.
“El, apa segini sudah cukup untuk memberi petunjuk kita?” tanya Rahula gantian menyerahkan handphonenya ke El. El menerimanya dan melihat beberapa foto yang telah diambil Rahula, lalu mengangguk.
“Bagus. Sekarang kita tinggal menunggu polisi untuk mencari penyebab kematiannya. Eh iya pak, siapa nama korban ini?” tanya El tanpa melihat kepada orang-orang di dekatnya. Matanya memperhatikan mayat itu dengan seksama. Dikeluarkan sebuah notes kecil dari saku celananya.
“Pemilik perusahaan terbesar, Kin Fujikaze” jawab bapak itu tanpa melihat El. Matanya berkaca-kaca.
El mencatat nama itu di notesnya kemudian memperhatikan mayat itu lagi. Dahinya berkerut saat melihat mawar. Dia jongkok mengamati mawar yang berjumlah 7 tangkai di samping jenazahnya. Lalu dia pun mencatat beberapa kata ke dalam notesnya.
“Kenapa ada mawar disini?” celetuk Rein saat matanya melihat ada seikat mawar di samping korban.
“Bloody Rose” jawab El sepontan.
“Bloody Rose? Sepertinya familiar”, Rein mengerutkan keningnya mengingat nama itu.
“Itu adalah senjata yang digunakan Zero dalam VK kan? Sejenis revolver kaliber tiga puluh delapan”, kata Rahula yang sangat menyukai film animasi tentang Vampire itu.
“Ah ya, aku pernah melihatnya sekali di netbookmu waktu itu”.
“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?” Rahula bertanya tepat saat bunyi sirine polisi mendekat ke vila mereka.
“Kita biarkan mereka menyelidiki tempat ini dulu”, jawab Rein melihat ke arah sirine itu datang.
“Setelah mereka baru giliran kita beraksi”, tambah El. Rein dan Rahula mengangguk setuju.
Sementara itu satu unit mobil polisi memasuki  halaman depan vila itu. Dengung sirinenya sudah berhenti. Seorang polisi berseragam mengetuk pintu dengan agak keras.
“Selamat sore. Apa benar ini vila keluarga Marfin?” tanya seorang polisi yang tadi mengetuk pintu.
“Selamat sore. Iya benar. Ada yang bisa saya bantu bapak?” jawab bibi yang membukakan pintu dengan sedikit terkejut.
“Kami tadi mendapat laporan bahwa disini telah ditemukan sebuah mayat laki-laki di samping jurang. Apa benar?”
“Iya pak, itu benar.” Tiba-tiba El muncul dari halaman samping.
“El?” tanya polisi yang tinggi dan tampan itu.
 El menggeleng memasang tampang datar.
“Kamu El kan?” tanya polisi itu mengulang.
El perlahan tersenyum dan mengangguk.
“Ah kau tambah besar sekarang ya El?” polisi yang di dadanya bertuliskan nama George Sign itu mendekat lalu memeluk El.
Rahula terbengong-bengong melihat wajah polisi itu. Tampan bangeeet...!  jantungnya berdesir.
“eh ya, ini Rahula dan Rein. Temanku di akademik” El memperkenalkan kedua temannya kepada G. “Ini temanku saat kecil Re, Ra” dia pun memperkenalkan G kepada temannya. Rein dan Rahula berjabat tangan sebentar.
“Eiya El, dimana kamu menemukan mayat itu?” tanya G saat perkenalan mereka dikira sudah cukup.
“Di samping sana. Lebih baik sekarang kita ke sana,” kata El sambil menunjuk ke arah datangnya dia tadi.
“Baik, sekarang kita ke sana”.
Dia pun mengomandoni agar anak buahnya segera menuju ke tempat yang telah ditunjuk El.
Sementara anak buahnya memeriksa seluruh tempat kejadian perkara dirinya menanyakan seputar kronologis kejadian bagaimana ditemukannya mayat tersebut kepada El dan teman-temannya di ruang tamu.
“Kami sudah mengambil foto kondisi mayat itu ditemukan,” kata El sambil menyerahkan handphone Rahula kepada polisi itu.
“Bagus. Ini akan sangat membantu kami. Tapi kami akan tetap memotret TKP tersebut.” Ujar G kelihatan bertambah tampan saat serius. “Emm tapi kenapa kalian bertindak begitu jauh sebelum polisi datang?”
“Karena kami memiliki izin legal dari pemerintah untuk melakukan hal tersebut”, jelas El tapa ragu.
“Izin legal? Maksudnya?” tanya polisi G, bingung.
“Kami adalah murid akademi sekolah detectif di kota ini. Jadi kami pun sudah mendapat izin dari pemerintah untuk ikut campur jika ada kejadian pembunuhan seperti ini” jelasnya.
“Begitu yah? Baik. Berarti kalian bisa membantu kami dalam menyelidiki kasus ini”
“Baik”.
“Nah sekarang siapa saja yang tinggal disini?”
“Hanya bibi dan bapak”.
“Siapa yang kamu maksud bibi dan bapak itu?”
“Bibi itu yang mengurus vila ini sejak keluargaku pindah ke kota. Dia juga yang tadi membukakan pintu. Sedangkan bapak adalah suami bibi yang juga tukang kebun di sini,” jelas El.
“Bisakah kamu memanggilkan mereka El?”
“Baik.” Kemudian El ke belakang dan memanggil keduanya.
Seorang polisi masuk dan melapor.
“Lapor, Pak. Korban diduga meninggal satu jam yang lalu dikarenakan sebuah peluru yang ditembak dari pistol revolver kaliber tiga puluh delapan menembus dadanya.”
“Baik. Terima kasih. Lanjutkan penyelidikan di tempat sekitar lokasi kejadian”
“Baik.” Kemudian polisi itu pergi.

Tak lama kemudian El datang bersama bibi dan laki-laki yang dipanggil El sebagai bapak itu. Setelah duduk keduanya ditanya satu persatu.
“Siapa nama bibi?” tanya G sambil mencacat di notesnya.
“Sybil Harlan” jawab bibi dengan takut-takut.
“Umur?”
“Empat puluh lima tahun”
“Status?”
“Menikah”
“Nama suami?”
“Harlan Doxey”
“Sudah lama kerja di sini?”
“Iya”
“Apa yang bibi lakukan satu jam yang lalu?”
“Saya di dapur membereskan sisa makan siang kami lalu memasak makanan untuk makan malam.”
“Apa ada saksi yang melihat anda di dapur?”
“Ada. Saat itu saya akan ke kamar mandi dan saya melihat bibi di dapur sedang memasak,” jawab Rein spontan. Dia berdiri di dekat jendela yang menghadap ke arah halaman depan.
“Baik. Lalu apakah anda mengenal korban ini?” tanyanya kepada bibi.
“Iya. Dia adalah pemilik perusahaan terbesar di kota ini. Kin Fujikaze.” Jawab bibi sambil menunduk.
“Kenapa anda menjawab dengan menunduk bi?”
“Aaa.... tidak..” wajah bibi terlihat gugup dan takut.
“Ada apa bi? Katakan saja yang sejujurnya,” desak El.
Bibi diam sebentar sebelum menjawab.
“Dia itu... maksud saya... Kin Fujikaze itu.. adalah orang yang sombong dan egois.. Banyak orang yang tidak menyukainya sejak peristiwa itu.” Terang bibi dengan agak sedikit tersendat.
“Peristiwa apa?” tanya El antusias.
“Peristiwa 3 tahun yang lalu, yang menyebabkan sopir pribadinya tewas mengenaskan.”
“Bagaimana ceritanya?” giliran G yang bertanya.
“Waktu itu... saat itu..  saat usahanya belum begitu maju seperti sekarang, dia mempunyai seorang sopir pribadi yang bernama Jonathan Samuel. Hari itu adalah hari yang naas baginya. Tepat pada saat Valentine Day. Waktu itu adalah hari libur baginya dan dihabiskannya bersama keluarga. Meskipun hanya seorang supir namun bayarannya adalah lebih dari cukup. Dia mampu menghidupi kedua anaknya dan seorang istrinya yang bekerja sambilan menjadi seorang penjahit.” Bibi berhenti sebentar untuk menarik nafas lalu melanjutkannya kembali. Tak ada yang menyela.
“Hari itu dia menghabiskan waktu liburnya dengan bersenang-senang dengan keluarganya ―hal yang jarang dilakukannya bersama keluarga tercinta― dia disusul oleh salah seorang rekannya yang tukang kebun di keluarga Edward itu juga. Rekannya itu mengatakan bahwa dia disuruh untuk mengantarkan keluarga majikannya ke puncak. Dia tidak bisa menolak perintah itu karena dia merasa berhutang budi pada keluarga Edward yang telah mengangkat derajat perekonomian keluarganya meskipun istrinya, Rose Samuel melarangnya karena alasan liburan. Samuel tetap bersikeras untuk melaksakan perintah itu juga karena dia tahu kalau tuannya Edward Street itu adalah orang yang kemauannya harus terpenuhi. Akhirnya walaupun dengan berat hati Rose melepaskan suami tercintanya itu.”
El sedikit terkejut saat mendengar nama istri Samuel itu. Dahinya berkerut sampai dalam. Tapi sesaat wajahnya terlihat biasa kembali. Telinganya kembali mendengar cerita bibi dan sesekali menulis sesuatu di notes kecilnya.
“Saat hampir sampai di puncak ini sebuah tragedi melanda satu mobil keluarga itu” lanjut bibi. ”Sebuah truk pengangkut barang ke kota menabrak mobil tersebut. Semua yang ada di dalam mobil itu mengalami luka berat kecuali si sopir yang langsung tewas di tempat kejadian karena mengalami pendarahan hebat. Saat mendengar kabar bahwa suaminya meninggal dalam kecelakaaan itu Rose langsung tak sadarkan diri dan kehilangan ingatannya. Dia sempat gila selama satu tahun dan menghuni di rumah sakit jiwa karena dinilai membahayakan orang lain. Dia hampir mencekik anaknya sendiri. Sejak saat itulah Rose diungsikan ke RSJ untuk mendapat perawatan yang baik.”
“Satu tahun kemudian dia sembuh dan kembali hidup bersama keluarganya, kecuali tanpa suami tercintanya itu. Dia berjuang untuk memenuhi kewajibannya sebagai orang tua dan menyekolahkan anak-anaknya. Dia kembali membuka usaha lamanya sebagai seorang penjahit. Karena hasil jahitannya memuaskan dari hari ke hari order menjahitnya semakin banyak dan melesat. Lama kelamaan usahanya pun berkembang dengan pesat. Dia menyerahkan usahanya itu kepada putri sulungnya dan dia sendiri tiba-tiba menghilang entah kemana. Tak ada orang yang tahu keberadaanya hingga sekarang.”
“Apakah anaknya tidak ada yang tahu tentang keberadaanya bi?” tanya Rein.
Bibi menggeleng. El terlihat sibuk mencatat di notesnya. Tiba-tiba dia menegakkan kepalanya dan menatap bibi dengan wajah dinginnya.
“Apa bibi punya fotonya?”
Bibi mengangguk. “Iya. Dia adalah teman bibi sewaktu SMA dulu. Sebentar bibi ambilkan” kemudian dia pergi ke belakang.
“Baiklah. Sambil menunggu ibu Sybil saya akan menanyakan beberapa hal kepada bapak.” Kata G dengan formal. Laki-laki itu mengangguk.
“Siapa nama lengkap bapak?” tanyanya memulai interogasinya.
“Harlan Smith”.
“Usia?”
“Empat puluh delapan”
“Anda tinggal di sini bersama dengan istri anda?”
“Iya.”
“Baiklah. Apa yang anda lakukan pada pukul 16.30 tadi?”
“Saya bercengkerama dengan El di taman belakang”. El mengangguk tanda membenarkan.
“Apa anda mengenal korban?” lanjut G.
“Iya.”
“Ada yang anda ketahui tentang korban ini?”
“emm.. tidak” wajahnya agak sedikit menunjukkan keragu-raguan di mata El. Tapi suaranya terdengar meyakinkan.
Tak lama bibi pun datang membawa sebuah foto lamanya dan menyerahkannya kepada El. El mengamatinya dengan seksama. Hal pertama yang membuatnya tertarik pada foto itu adalah warna silver pada mata dan rambut seorang wanita yang berpose di depan pantai itu. Bentuk matanya yang unik terlihat dingin membuatnya teringat pada Kurenai Maria pada film Vampire Knight yang pernah dilihatnya.
“Boleh aku membawanya untuk dokumentasi El?”
“Iya. Tapi saya akan membuat duplikatnya dulu sebentar.” El pun masuk ke kamarnya dan mengambil laptop kecilnya. Dia lalu mengaktifkan webcam dan meletakkan foto itu di depan kamera kemudian memotretnya.
“Ini kalau mau kamu ambil” katanya sambil menyerahkan foto itu ke tangan G.
“Baik. Terima kasih. Untuk sementara semua penghuni di vila ini diharap tidak meninggalkan vila tanpa alasan yang jelas karena untuk malam ini akan ada polisi yang mengawasi TKP 24 jam. Berhubung hari sudah semakin senja kami akan melanjutkan pencarian esok hari.”
“Baik.”
Namun saat polisi itu hendak keluar anak buahnya masuk dan memberi laporan.
“Lapor komandan. Kami menemukan sebuah pisau bermata tiga di antara semak belukar itu. Ada sebuah noda darah yang sudah mengering di ujung benda tersebut. Namun bisa dipastikan bahwa darah itu bukanlah darah korban sekarang”, kata polisi itu sambil menyerahkan sebuah pisau yang terbungkus rapi di dalam sebuah plastik sedang. Pisau itu memantulkan cahaya lampu di ruangan tersebut. El mendadak teringat sesuatu.
“Dimana posisi pisau ini saat ditemukan?” tanya El tiba-tiba.
“Diantara rerimbunan semak belukar itu”.
“Bolehkah kami kesana untuk menyelidikinya?”
“Yah. Kami sudah selesai memeriksa tempat tersebut. Tapi orang lain yang tidak berkepentingan dilarang memasuki wilayah tersebut.”
“Baik. Kami mengerti”.
Lalu mereka berlima pun menuju tempat kejadian perkara. El sepertinya mencari-cari sesuatu.
“Kamu mencari apa El?” tanya komandan G.
“Apa anak buahmu tadi menggunakan sebuah tambang untuk menuruni tebing ini?”
“Apa begitu Ky?” G gantian bertanya pada anak buahnya yang tadi melapor.
“Iya”
“Memangnya kenapa El?” tanya G penasaran.
Kalian tidak melihat ada tangga di sini?” El balik bertanya kepada polisi yang bernama Ocky itu.
“Tidak. Kami tidak melihatnya” jawabnya.
“Sepertinya ada sebuah bekas tangga disini”, kata El sambil melihat ke tebing bawah.
“Kenapa?”
“Pakaian mayat itu terlihat rapi tanpa cacat. Tapi mengapa hanya di tubuh bagian belakangnya yang penuh dengan darah?”
“Apa benar begitu Ky?”
“Benar.”
“Lalu bagaimana menurutmu?” tanya G pada El.
“Entahlah. Kalau tangga itu tidak ditemukan berarti teoriku gagal untuk saat ini”, jawab El tanpa ekspresi.
“Ya sudah, kita lanjutkan besok saja”, kata G menenangkan El.
El pun mengangguk. Mereka meninggalkan TKP kemudian berpisah. George ke mobilnya lalu kembali ke markasnya di pusat kota, sedangkan El, Rein dan Rahula masuk ke dalam rumah.
El mengambil laptopnya kemudian mengetikkan hipotesisnya terhadap kasusnya kali ini. Rein duduk dengan tenang tanpa mengganggu El. Sedangkan Rahula berjalan mondar-mandir di ruang tamu itu.
“Ternyata benar firasatku. Ada sesuatu yang aneh sejak tadi siang.” Gumamnya pada diri sendiri.
“Kenapa Ra?” El mengalihkan pandangannya dari laptop ke sahabatnya itu.
“Apanya?” Rahula tidak tahu apa yang dimaksud El.
“Apanya yang aneh?” ulang El.
“Sejak kita sampai disini tadi sore aku mencium sesuatu yang berbau kematian. Mawar ini seperti pertanda kematian bagi seseorang.. dan kehancuran.” Rahula menerawang jauh entah kemana. El terdiam dengan kata-kata Rahula barusan. Rein hanya tersenyum simpul.
“Bisa kau ceritakan lebih detail, Ra?” pinta El. Kening Rein berkerut heran.
Rahula mengangguk. Ternyata El mengerti isyarat katanya. El siap mengetikkan setiap kata yang keluar dari cerita Rahula.
“Saat pertama kali melihat keluar jendela kamar itu aku melihat sesuatu yang bergerak-gerak terus seperti pohon yang tertiup angin. Semak belukar itu bergoyang goyang ke arah dalam dan keluar. Biasanya benda kalau tertiup angin bergeraknya bukan ke arah dalam atau ke arah luar melainkan ke kiri ataupun ke kanan. Tapi saat itu aku melihat gerakannya ke dalam dan ke luar, seolah dari bawah itu ada sebuah tiupan angin yang  membelai-belai semak belukar itu. Kata bibi di bawah sana ada sebuah jurang yang curam sehingga aku tidak lagi berpikir bahwa di bawah semak itu ada sebuah ruangan yang mungkin angin itu berasal. Itu teoriku.” Jelas Rahula panjang lebar.
El terlihat sibuk dengan laptopnya. Rahula duduk menyandar di seberang El, di samping Rein.
“Apa kamu masih penasaran dengan teorimu itu Ra?” tanya El tiba-tiba.
Rahula mengerjapkan matanya bingung. “Apa maksudmu?” tanyanya.
“Apa kamu ingin membuktikan bahwa teorimu itu benar?” ulang El.
Rahula menatap Rein yang menjawab dengan mengangkat bahunya.
“Kalau aku ingin membuktikan kebenaran teoriku. Aku akan ke sana dan mencari kebenaran itu tanpa harus menunggu esok hari”, kata El sambil mengemasi laptopnya dan siap pergi.
Rahula terlihat ragu sebentar kemudian dengan mantap menganggukkan kepalanya. “Aku akan ikut denagnmu” katanya akhirnya.
“Baik. Sekarang persiapkan penyelidikan kita.” Kata El sambil memberikan sebuah kertas kepada Rahula lalu kemudian dia pergi ke kamarnya.
Bawa lampu badai dan tembakan angin selalu di sakumu. Kita akan melewati badai itu bersama-sama.
Wajah Rahula memerah sedetik setelah membaca tulisan itu. Rein berdiri lalu ke kamar mempersiapkan diri kemudian disusul Rahula.
“Bawa tembakan anginmu, Re” kata Rahula lirih saat dia berada di samping Rein. Rein mengangguk mengerti dan menepuk-nepuk pinggang kanannya.
Setelah siap mereka pun keluar dan menuju TKP. Tak ada polisi yang menjaga daerah tersebut.
“Kemana polisi-polisi itu?” tanya Rahula heran.
“Biasa. Mereka tidak akan menjaga kalau tidak dibayar”, jawab El gampang.
Setelah sampai di TKP mereka menyalakan lampu badai masing-masing.
“Pertama-tama kita harus menemukan senjata itu dulu” kata El dengan tenang dan pelan.
“Senjata apa maksudmu?” tanya Rein.
“Revolver kaliber 38” jawab Rahula yakin. El mengangguk membenarkan. Rein pun mengangguk tanda paham.
“Sepertinya disini lah angin itu berasal”, kata Rahula tiba-tiba saat melihat bekas rimbunan semak yang sudah dipangkas oleh polisi.
El mengangguk kemudian mengambil sebuah ranting di dekat kakinya. Ditancapkan ranting itu di tempat yang ditunjukkan Rahula hingga sampai ujung ranting itu tak bisa lagi masuk ke dalam tanah. Kemudian dia mengambil ranting lain dan melakukan hal serupa di tempat lain sampai tiga kali. Lalu dengan lampu badainya dia melihat berapa kedalaman tanah yang dicapai ranting itu.
“Kau benar, Ra. Ada sebuah ruangan dibawah sini”, kata El tiba-tiba sehingga membuat Rahula agak tersentak.
“Maksudmu?” tanya Rein.
“Ada sebuah ruangan di bawah sini. Kita akan masuk sekarang”, kata El mantap.
“Bagaimana?” tanya Rahula setelah kagetnya hilang.
“Coba kau bayangkan jika ada sebuah ruangan bawah tanah di sini maka akan kemanakah arahnya?” tanya El kepada kedua temannya itu.
“Yang jelas tidak mungkin ke vila kamu”, jawab Rahula spontan.
“Kenapa?” tanya Rein.
“Karena itu akan membentuk sudut 45 derajat dan tidak mungkin seorang wanita membawa laki-laki sebesar korban itu mendaki tangga yang curam”, jelas Rahula.
“Tunggu! Kamu tadi mengatakan seorang wanita? Kamu sudah tahu pelakunya?” Rein makin bingung dengan kawannya itu. Rahula mengangguk.
“Bagaimana....” kata-kata Rein terpotong saat El terlihat mengatupkan bibirnya dengan telunjuk tangannya.
“Nanti aku jelaskan di vila. Sekarang kamu bantu aku untuk membuka pintu masuk ini.” Kata El sambil menancapkan tiga buah pencongkel pintu dalam garis lurus di atas tanah. Masing-masing mereka memegang 1.
“Siap...” tanya El kepada keduanya. Mereka mengangguk. “Tarik!” aba-aba El membuat keduanya serentak menarik pencongkel itu. Lalu mereka mundur dan melihat apa yang selanjutnya terjadi.
Perlahan tanah itu terangkat ke atas. Bau mawar itu tercium kembali. Kali ini begitu pekat seakan ada ratusan mawar yang sama. El menutupi hidungnya dengan masker yang dibawanya. Rahula yang menyukai bau mawar tenang-tenang saja tanpa masalah.
Setelah pintu terbuka sempurna terlihat sebuah anak tangga terhentang di bawah sana. Gelap tak ada cahaya. Perlahan Rahula mulai masuk dan melangkah ke anak tangga pertama.
“Hati-hati agak licin” ingatnya kepada El dan Rein yang masih ada di atas.
Lalu setelah Rahula menginjakkan kakinya di anak tangga ke dua barulah Rein turun mengikuti. El menyusul terakhir.
“El, disini datar lalu membelok”, kata Rahula berbisik kepada El. Namun karena di situ ruangan hampa jadi suaranya yang berbisik seperti suara lirih.
“Sudah aku perkirakan”, jawab El dengan tenang dan segera menghampiri kedua temannya.
“Tapi tak ada bekas darah disini” Rein yang sejak tadi diam angkat bicara.
Rahula segera membuka botol alkohol lalu menuangkan sedikit diatas lantai datar itu. Ada semacam gelembung di lantai itu.
“Ternyata dia mengganti pakaiannya disini.” Kata El tiba-tiba.
Tak ada yang komentar. “Kita harus cepat sampai di ujung ini” lanjutnya sambil memimpin berjalan terlebih dahulu menuruni tangga selanjutnya.
Setelah sampai di ujung anak tangga terakhir mereka dikejutkan dengan sebuah taman mawar yang begitu luas. Mawar yang jumlahnya tak terkira banyaknya. Hanya satu spesies.
Wajah Rahula terlihat begitu takjub karena seumur hidup dia baru melihat ada taman mawar di bawah tanah. Apalagi ia merasakan hangat seperti di perapian di rumahnya.
“Ra, jangan lupa tujuanmu ke sini” El mengingatkannya dari bayangan-bayangan rumahnya. Rahula pun hanya mengangguk lalu melanjutkan perjalanan mereka menyusuri taman itu. Namun tiba-tiba dia melihat sesuatu memancarkan cahaya lampu badainya dari bawah pohon mawar-mawar itu. Didekatinya benda tersebut lalu diambilnya dengan sapu tangannya.
“Ada apa Ra?” tanya Rein yang berada di depannya.
“Bloody Rose” jawab Rahula sambil memperhatikan pistol yang berada dalam genggamannya.
“Teorimu benar, Ra” El mengatakan itu sambil tersenyum. Rahula mengangguk. Pistol itu disimpannya dalam saku celananya lalu segera menyusul kedua temannya yang berjalan lebih dulu.
Sampailah mereka di sebuah pintu kayu yang kokoh. Terdengar suara dari luar sana seseorang yang sedang bercengkerama. El menempelkan telinganya di pintu tersebut sambil mengatupkan bibirnya dengan jari telunjuknya kepada teman-temannya.
“Maaf, kami mendapat perintah untuk meggeledah rumah Anda terkait dengan kasus pembunuhan yang ditemukan di kota ini”, suara G terdengar tegas.
“Tapi saya tidak terlibat! Saya punya alibi yang kuat untuk itu!” suara wanita itu terdengar begitu ngotot.
“Kalau anda tidak bersalah tidak usah ngotot seperti itu” jawab G dengan tenang.
“A... anu...” wanita itu sepertinya kalah dengan argumen G.
“Baiklah. Sepertinya anda tidak keberatan. Sersan, tolong segera geledah seluruh rumah ini!”
“Baik.”
“Giliran kita,” instruksi El kepada kedua temannya. Rein dan Rahula mengangguk. El menyuruh kedua temannya untuk menembakkan tembakan angin di pintu itu. Satu persatu lalu kemudian bersamaan hingga membuat suara gaduh dari luar sana.
“Sepertinya ada suara di balik dinding ini, Komandan.” lapor sersan yang tadi ditugaskan G untuk menggeledah rumah tersebut.
“Suara apa?” Komandan G pura-pura tidak tahu. Padahal dia sudah tahu bahwa itu adalah isyarat dari kelompok El.
“Seperti sebuah tembakan yang bertubi-tubi”, jelas sersan tersebut.
Wanita itu terlihat ketakutan dan gugup.
“Disana tidak ada apa-apa!” jerit wanita itu.
“Saya tidak menanyakan apakah di sana ada sesuatu atau tidak.” Kata G dingin.
“Saya hanya akan bertanya, bagaimana cara membuka dinding ini?” lanjutnya dengan tatapan mengancam kepada wanita yang tubuhnya sangat menantang itu. Wanita itu kini benar-benar ketakutan. Tubuhnya bergetar dan wajahnya terlihat pucat.
“Lapor komandan! Ada sebuah lubang di dinding itu. Diguga itu adalah lubang kunci untuk membuka dinding itu”, anak buahnya yang lain melapor kepadanya.
“Bagus. Gunakan kunci maling untuk membukanya” perintah G kepada anak buahnya itu.
“Baik.”
Namun sebelum polisi itu berhasil membuka dinding, dinding itu bergerak ke samping dengan perlahan. Semua polisi yang berada di situ terpana. Bau mawar merah menyeruak ke ruangan tersebut. Wanita itu berusaha melarikan diri. Namun sayangnya tangan G yang panjang dan kuat berhasil meringkus kembali wanita itu.
 El muncul dari balik dinding dengan wajah tersenyum.
“Selamat El. Teorimu berhasil dengan suskses”, G menjabat tangan sahabat kecilnya itu dengan erat. El hanya mengangguk kecil. Rein masih sedikit penasaran dengan penjelasan kasus itu.

“Wanita itu yang telah melakukan ketiga pembunuhan keji pada akhir minggu ini, Re”, kata El menjelaskan kepada Rein pada suatu pagi yang cerah di perjalanan pulang ke ibu kota. “Motifnya balas dendam terhadap kematian suaminya tiga tahun yang lalu. Kamu masih ingat dengan cerita bibi tentang Rose Samuel kan? Dia mengganti namanya dengan Kelly Erle setelah berhasil kabur dari kedua anaknya dan menetap di perbukitan itu menunggu waktu yang tepat untuk membalaskan dendam kematian suami tercintanya”, lanjutnya. Rein mengangguk.
“Tapi kenapa kamu bisa tahu bahwa wanita itu telah merubah namanya?” tanya Rein masih penasaran.
“Ada beberapa hal yang orang tidak bisa merubah penampilan fisiknya meskipun dia berusaha merubahnya.” Jawab Rahula dengan tenang.
“Contohnya?”
“Warna mata”, jawab El dengan spontan.
“Tapi kan bisa pakai softlens El?” protes Rein.
“Iya. Tapi apakah orang akan terus menggunakan softlens itu Re? Adakalanya harus dilepas dan saat itu lah identitas kita akan dikenal. Pun wanita itu. Aku pernah melihatnya di kereta yang kita tumpangi waktu akan ke sana. Dia turun di stasiun yang sama dengan kita dan ternyata vilanya ada di belakang kita. Saat itu dia tidak menggunakan softlens dan mata silvernya yang unik sama dengan di foto bibi mengingatkanku pada wanita itu. Juga dari korban pertama yang mengucapkan Rose berulangkali mengingatkanku pdnya” El menjelaskan dengan detail kepda Rein.
“Tapi juga sidik jari di pisau yang ditemukan polisi di semak itu sama dengan sidik yang ada di pistol miliknya” ujar Rahula. El mengangguk.
“Tapi yang paling penting adalah jumlah mawar pada setiap korbannya”. Tambah Rahula dengan setengah mengantuk.
“Jumlah mawar?” Rein terkejut.
El mengangguk lagi.
“Aku tidak terlalu memperhatikan mawar itu” aku Rein.
“Itulah kelemahanmu. Terkadang apa yang terlihat tak penting adalah kunci dari pemecahan kasus itu” ujar El tanpa melihat ke Rein. Rein membuang muka ke jendela luar jendela kereta yang sedang gerimis. Malu.
“Uaaahh.. Liburan yang melelahkan!” keluh Rahula sambil menguap dan menggeliat.Tak lama matanya pun terpejam sambil membayangkan Kaname dalam mimpinya.


The End

By :( Shizuka Aozawa )