mohon kritik dan sarannya yah..
langsung aja deh cekibrot....


Pagi yang cerah. Mentari
bersinar di ufuk timur bermandikan cahaya merah keemasan. Burung-burung camar
terbang rendah di atas permukaan air danau yang tenang dan sesekali menyambar
sesuatu di permukaannya. Angin sepoi-sepoi bertiup dari danau itu menuju ke
arah bukit yang terdapat villa penduduk.
Danau itu dikelilingi oleh
perbukitan kecil yang di atasnya dibangun villa-villa mewah yang biasa
disewakan kepada pengunjung danau itu. Villa-villa itu seluruhnya menghadap ke
arah danau sehingga terlihat seperti benteng pembatas pada sungai agar tidak
jebol sewaktu hujan turun melimpah. Jarak antara villa-villa itu dengan danau
cukup jauh, sekitar 164 kaki. Ada sebuah jalan yang diberi paving block di
sepanjang jarak itu. Cukup untuk memuat sebuah mobil travel ataupun mobil
pribadi para pengunjung.
Di pintu masuk perbukitan itu
juga ada sebuah pos satpam jaga 24 jam. Setiap pengunjung yang akan bermalam
ataupun tidak di daerah itu wajib melapor kepada satpam jaga di sana agar
terjamin keselamatan jiwa dan harta bendanya. Tak ada yang menjamin keselamatan
pengunjung jika tidak melapor kepada penjaga itu. Apalagi sekarang sedang
liburan musim panas sehingga pengunjung lebih banyak daripada biasanya. Hal ini
membuat peluang beraksinya orang jahat semakin besar.
Pagi yang sejuk seperti sekarang
paling enak untuk berjalan-jalan dan menikmati pemandangan di sekitar danau
yang indah. Jadi tidak mengherankan jika banyak orang yang keluar rumah entah
sekedar jalan-jalan keliling atau jogging
dan melemaskan tubuh sebelum beraktivitas di sekitar danau yang tenang itu.
Banyak pengunjung yang mulai
berdatangan dari berbagai daerah untuk menikmati keindahan atau berlibur di
tempat itu. Villa-villa yang biasanya sepi kini ramai dengan para pengunjung. Mobil-mobil sudah
mulai banyak berdatangan dari berbagai penjuru.
Tak terkecuali sebuah
mobil berwarna biru metalik yang dikendarai oleh 3 orang remaja. Mobil itu
sedikit merapat ke pos penjaga dan melapor atas kedatangan mereka.
“Pagi, pak Galih?”
sapa si pemegang kemudi dengan akrab kepada penjaga pos pagi ini yang sedang
mengetik di komputer. Rupanya dia kenal dengan penjaganya.
“Pagi...” si pemilik
nama Galih itu mengalihkan pandangannya dari komputer ke suara orang yang
menyapanya. Keningnya sedikit berkerut. Berusaha mengingat siapa nama anak
laki-laki yang kelihatannya familiar itu.
“Maaf kamu siapa yah?
Sepertinya saya kenal.. ” katanya sambil berpikir dan mengamati anak laki-laki
itu. Ada sesuatu yang membuatnya ingat kepada anak itu.
“Finished, El?” tiba-tiba sebuah suara anak perempuan dari dalam
mobil itu memanggilnya. El? Sepertinya
aku pernah dengar sebelumnya. Jangan-jangan... hatinya tiba-tiba merasa sejuk
dan bahagia.
“Just moment! ”, jawabnya pendek tanpa menengok ke suara yang
memanggilnya.
“Kamu Elvian Marvin?”,
akhirnya penjaga pos itu menjawab dengan ragu. El menjawabnya dengan mengangguk
dan tersenyum. Si penjaga itu tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dulu
saat pertama kali El diajak dan dititipin ke tempat kerjanya itu masih SMP
kelas 1 dan masih kecil. Tapi sekarang setelah 4 tahun tidak pernah ketemu
dengan anak nakal itu lagi dia benar-benar tidak mengenalnya. Seluruh fisiknya
berubah. Hanya mata hijaunya saja yang membuatnya percaya dan mengingatnya.
Mata itulah yang diturunkan oleh ayahnya, Rio Marvin, yang berkebangsaan
Jerman. Dulu dia tinggal di villa itu selama 3 tahun bersama ibunya, lalu
setelah lulus SMP pindah lagi karena harus ikut ayahnya ke Amerika dan
melanjutkan sekolah di sana.
“Masih ingat saya,
Pak?”, tanyanya dengan logatnya yang khas sambil tersenyum dan turun dari
mobilnya.
“Tentu lah. Tak ada
anak secerdas dan senakal kamu disini. Hahaha.... “ jawab pak Galih itu sambil
berkelakar.
El hanya tersenyum
malu.
“Bagaimana kabarnya
Pak Marvin, El? Masih di Amrik sekarang?” orang tua itu kembali bertanya setelah
tawanya reda.
“Baik aja, pak. Iya,
papa masih di Amrik. Sekarang lagi buka cabang baru lagi disana”.
“Wah, hebat. Bapak
sangat kagum dengan ayahmu itu. Walaupun punya banyak uang tapi tidak pernah
sombong ataupun pelit dengan orang lain yang sedang kesusahan. Sudah jarang
sekali orang yang seperti itu pada zaman sekarang”, kata pak Galih dengan
sesekali menggoyang goyangkan kepalanya sebagai tanda takjub.
El hanya tersenyum
mendengarnya. Tak menjawab apa-apa.
“Hei, kamu masih kaya
dulu yah? Pendiam. Kalau nda ditanya ya cuma manggut manggut dan tersenyum.
El... el....” Pa Galih paling senang dengan sikap dia yang satu ini. Tidak
banyak bicara tapi banyak tingkah, katanya suatu hari.
“Kamu mau nginep
berapa hari disini?” tiba-tiba dia ingat harus mencatat data pengunjung hari
ini, tak terkecuali mantan anak angkatnya yang sudah tumbuh besar itu.
“Dua minggu saja pak.
Soalnya tengah bulan saya harus balik lagi ke Amrik buat nyiapin sekolah minggu
depannya.” Jawab El setengah menjelaskan bahwa dia hanya libur satu bulan di
musim panas bulan ini.
“Baiklah. Untuk berapa
orang?” katanya dengan mencatat di buku tamu.
“Tiga orang. Atas nama
saya, Rahula Virny dan Rein Makoto”,
“Laki-laki semua?”
“Tidak. Satu cewek”
“Siapa?” tanya pa
Galih heran.
“Rein”
“Oh, Rein itu
perempuan yah? Bapak kira laki-laki. Hehe maaf yah?”
“Iya tidak apa-apa ko,
Pak. Dia anak negeri Sakura. Ini kartu pengenal dan paspor kita”, jelas El sambil
menyerahkan tiga buah kartu pengenal Amerika dan paspor karena mereka tidak
mempunyai KTP setempat.
“Baik, sebentar saya
catat dulu nomornya”.
El hanya melihat
tangan tuanya yang begitu lincah menari-nari di atas tuts keyboard komputer.
“How long, El? I’m so tired,” gadis di dalam mobil itu kembali
bersuara. Logat bahasa Inggrisnya agak aneh. El diam tak menyahut. Menunggu Pak
Galih selesai menyalin identitas mereka.
Karena tak sabar
menunggu dan tak ada jawaban akhirnya gadis itu keluar dari mobil dan
menghampiri El. Rambutnya yang lurus sebahu berkibar ditiup angin. Penampilannya
yang berbeda dari anak-anak asli daerah itu membuatnya menjadi sorotan orang di
sekelilingnya. Kulitnya yang putih dibalut dengan jaket hitam almamater sekolah
dan baju putih di dalamnya yang berkerah serta berpita di ujungnya membuatnya
tampak begitu cantik. Apalagi dengan model rok mini berlipit yang hanya sampai
pahanya membuat orang yang tak pernah melihatnya merasa akan copot matanya.
Kaos kaki hitam yang dipakainya hingga diatas lutut pun membuat kakinya
terlihat lebih ramping dan indah.
“Belum selesai, El?”
tanyanya saat sudah di samping El sambil melihat pak Galih sedang mengetik
identitas mereka. El hanya mengedikkan bahunya.
“They all look at you,
Re ”, bisik El kepada Rein tanpa melihat ke orang-orang di sekelilingnya.
Rein melihat ke
sekelilingnya dengan heran.
“Dousite?” (Kenapa?)
“Wakarimasen”,
lagi-lagi dia hanya mengedikkan bahunya.
Seakan mengerti apa
yang dibicarakan oleh dua anak remaja itu pak Galih menjawab sambil keluar dari
ruang loketnya.
“Pakaian yang kamu
kenakan bagi kami itu aneh, nak. Disini tidak ada yang menggunakan rok mini
seperti itu. Apalagi anak seusiamu” kata pak Galih dengan bahasa Inggisnya yang
ternyata juga fasih. Rein mengangguk-angguk mengerti.
“Thank you, Sir. I’m
sorry very much
***
Mereka sampai di villa
orangtua El tepat pada sore hari pukul 16.00.
El, Rein, dan Rahula
langsung disambut oleh seorang wanita setengah baya yang mengurus villa itu.
“Eh, nak El. Ayo
silahkan masuk..” kata wanita itu menyambut kedatangan mereka dengan senyum
yang ramah lalu mengambil tas yang mereka bawa.
“Ini kamar mbak Rein
dan Rahula” kata wanita yang telah lama mengenal kedua teman majikan mudanya
itu sambil membukakan sebuah pintu kamar tamu. Aroma sejuk AC dan harum bunga
mawar merah langsung tercium begitu pintu terbuka. Raut muka bibi sedikit terkejut
sesaat. Hanya El yang melihatnya sekilas karena kemudian wajah bibi kembali
seperti biasa.
Rein, Rahula dan bibi
masuk ke dalam kamar itu sementara El menunggu di luar sambil bersandar di
dinding dengan kedua tangan sebagai tumpuan kepalanya. Matanya meneliti
setiap sudut di rumah yang telah lama tidak dikunjunginya itu. Dia tak terlalu
memikirkan perubahan raut wajah bibi. Tapi dia heran sejak kapan bibinya
menyukai aroma mawar? Sebuah pertanyaan besar buatnya.
Dari tempat berdirinya
itu dia bisa melihat tukang kebunnya di halaman belakang sedang memotongi
rumput yang mulai panjang di sekitar taman air mancur. Dihampirinya laki-laki yang
sejak kecil sudah menjadi ayah keduanya itu.
“Sore Pak?” Laki-laki
yang sedang berjongkok tak jauh dari kolam air mancur itu sedikit terkejut.
“Eh nak El?” laki-laki
itu langsung menengok ke arah asal suara dan berdiri. Wajahnya terlihat kaget.
“Bagaimana kabar
bapak? Sehat?” tanya El sambil merangkul laki-laki yang makin bertambah usia
itu.
“Iya baik, nak. Nak El
sendiri bagaimana? Tambah besar dan ganteng sekarang yah. Haha...” kata
laki-laki itu dengan tawa khasnya.
“Baik juga pak”.
Mereka pun berbincang banyak hal sambil melepas rindu.
Sementara dari dalam
kamar tamu terdengar suara Rahula mendecak kagum dengan apa yang dilihatnya.
“Waaaw.... indah
banget,
Re!”
katanya sambil melihat ke luar jendela kamar itu. Hamparan pohon-pohon yang
tinggi dari jauh membentuk seperti sebuah bukit.
“Hati-hati kalau naruh
barang di tepi jendela itu ya mbak? Takut nanti jatuh ke dalam tebing” ujar
bibi sambil menunjuk ke tumpukan rumput di samping tembok vila itu. ”Kalau
sudah jatuh ke sana susah ngambilnya” lanjutnya sambil menata tas koper di
samping sebuah lemari besar di kamar itu.
“Disana jurang, bi?”
tanya Rein yang belum pernah menginap di vila itu sambil menunjuk ke arah luar
jendela.
Bibi mengangguk. “Iya.
Tapi ada jarak sekitar 1,5 meter dari batas vila ini dengan jurang itu”.
Rein menghampiri Rahula yang sedang menatap pemandangan
di luar sana. Dia berdiri di samping Rahula dengan memegang sisi-sisi bawah
tepi jendela sambil menutup matanya dan menghirup udara segar yang masih alami
itu. Tapi tiba-tiba dia mencium sesuatu yang aneh dalam kesegaran itu. Bau
wangi bunga mawar yang begitu menusuk.. dan bau anyir seperti..... darah! Dia
segera membuka matanya tepat saat sesuatu mencekal pergelangan tangannya dengan
kuat.
“Ada apa Ra?” tanya
Rein kaget.
“Ada sesuatu yang
bergerak di bawah sana”, jawab Rahula dengan wajah yang begitu ketakutan.
Telunjuknya mengarah pada semak belukar tepat membentuk sudut 90 derajat dari
jendela kamar itu.
“Mana?” Rein mengikuti
arah telunjuk Rahula untuk memastikan. Jantungnya mulai berdegup kencang karena
ketakutan. Tidak ada apa-apa.
“Tidak ada apa-apa ko
Ra..” kata Rein setelah memastikan tak ada sesuatu yang aneh di sana. Dia menekan
perasaan was-was dalam hatinya. Ada firasat yang tak baik.
“Tapi tadi ada yang
gerak di bawah sana!” Rahula berkata ngotot.
“Ada apa?” tanya bibi
sambil mendekati mereka.
“Ada sesuatu di bawah
sana yang bergerak, bi” jelas Rahula sambil menunjuk ke tempat yang tadi dia
tunjukkan ke Rein.
“Mana?” tatapan bibi
mengikuti arah yang ditunjuk Rahula tadi.
“Tidak ada apa-apa kan
bi?” kata Rein memastikan pada penglihatannya.
“Iya. Tidak ada
apa-apa” sahut bibi sambil menatap mata Rahula. Rahula kembali menatapnya
dengan tatapan yakin. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres.
“Tapi tadi aku lihat
disana ada sesuatu yang bergerak!” Rahula tetap ngotot dengan pendiriannya.
“Mungkin cuma angin
yang lewat”, kata bibi meredakan suasana mereka dan hatinya yang mulai berdesir
cepat.
“Iya Ra.. mungkin cuma
angin yang lewat aja dari bawah. Ini kan perbukitan? Jadi kita tidak usah
memikirkan hal yang seperti itu” dukung Rein dengan pendapat bibi. Tapi tadi
dia sempat melihat sekilas tatapan aneh dari bibi. Seperti ketakutan, tapi
hanya sebentar karena bibi pintar menyembunyikan perasaanya.
“Ya sudah, sekarang
kalian istirahat dulu yah? Kalau mau mandi disitu ada kamar mandi” kata bibi
menunjuk ke sebuah pintu di sebelah kanan kamar. Lalu berjalan keluar.
“Iya bi, terima kasih”
angguk Rein sambil menatap kepergian bibi itu.
“Eh ya, nanti kalau
kalian lapar ke belakang saja dan cari bibi yah? Nanti bibi hangatkan masakan
untuk makan kalian”, ujarnya sebelum menutup pintu. Rein hanya mengangguk dan
tersenyum.
“Terima kasih”.
***
“Eh iya pak. Ada
sesuatu yang mau saya tanyakan kepada bapak”, ujar El kepada laki-laki tukang
kebunnya itu setelah melepas rindunya selesai.
“Iya tanyakan saja”.
“Sejak kapan bibi
mengganti pengharum ruangan dengan bau mawar merah?”
Laki-laki itu
mengerutkan dahinya seperti berpikir. Lalu matanya membelalak seperti melihat
sesuatu yang mengejutkan seperti tadi saat dia menyapanya.
“Ada apa pak?” tanya
El penasaran. Wajahnya menatap laki-laki itu dengan serius.
Laki-laki itu hanya
diam dan menundukkan matanya ke cangkul yang dipegangnya.
“Maafkan bapak, El”
laki-laki itu menjawab dengan lirih.
“Kenapa minta maaf,
Pak?” kejar El makin penasaran
Diam. El mencoba memberinya
waktu untuk berpikir. Tak lama laki-laki itu mengangkat matanya dan menatap El.
“Ceritakan saja, Pak” desaknya lembut.
Laki-laki itu mengangguk.
“Semuanya berawal dari satu minggu yang lalu, nak. Saat kami sedang membereskan
vila ini kami mencium wangi mawar merah dari ruang kamar tamu itu. Lalu kami
mencari sumber bau itu karena bibi paling tidak tahan dengan bau mawar merah.
Kemudian tak lama setelah menyisiri seluruh rumah ini kami menemukan sumber itu
dan sesuatu yang sangat mengerikan”. Laki-laki itu berhenti agak lama. El
menunggu dengan sabar kelanjutan ceritanya.
“Kami menemukan seorang
anak laki-laki seusiamu tergeletak di bawah kamar tamu itu dalam keadaan
sekarat. Namanya Fujikaze Ozawa, anak pengusaha terkaya di kota ini yang
berasal dari Jepang itu. Dari mulutnya tercium bau alkohol yang sangat
menyengat. Di samping tubuhnya ada seikat mawar merah tak berduri. Kalau tidak
salah sekitar 14 tangkai. Mawar itu jenis yang sangat langka di sini. Tak ada
yang menanam mawar seperti itu. Kami kira itu hanyalah orang yang usil membuang
mawar di tempat seperti itu. Jadi kami pun tak mempedulikan mawar tersebut.
Kami hanya menghawatirkan keadaan anak itu.”
“Darahnya terus keluar
dari belakang tubuhnya hingga ketika di perjalanan ke klinik terdekat dia sudah
menghembuskan nafasnya yang terakhir.”
“Namun sebelum
meninggal dia mengatakan satu hal yang tidak pernah kami mengerti sampai
sekarang.” Bapak itu berhenti lagi sebentar.
“Apa pak?” El
penasaran sehingga dia menyela cerita laki-laki itu.
“Ia terus mengatakan
‘Rose’ pada nafas-nafas terakhirnya. Kami tidak begitu mengerti maksud
perkataannya itu. Kami pikir dia menyuruh kami untuk menyimpan bunga mawar yang
tergeletak di sampingnya saat kami menemukannya dulu. Jadi bapak dan bibi pun
menanamnya di taman ini. Kami merawatnya dengan baik. Tapi sayangnya bunga itu
tak lama hidup. Tiga hari kemudian bunga itu akhirnya layu dan mati.” Laki-laki
itupun terdiam.
“Apa anak itu tidak
diotopsi pak?” tanya
El setelah tak ada lanjutan ceritanya lagi.
“Tidak. Kami pikir dia
hanya meninggal karena kecelakaan saja jadi tidak perlu otopsi. Di sini sudah
umum jika ada seorang pemuda meninggal dalam keadaan babak belur dan
mabuk begitu. Jadi kami langsung mengembalikan kepada pihak keluarganya.”
“Lalu?”
“Tiga hari kemudian
saat bunga mawar itu mati kami mencium baunya kembali di bawah kamar itu. Saat
itu bibi mau membereskan kamar tamu karena akan digunakan. Ketika bibi sedang
membuka jendela, bau itu tercium kembali. Bibi yang sudah hafal dengan bau
wangi itu segera memanggil bapak yang sedang memotongi tanaman disini. Kami pun
segera turun bersama untuk melihat apa yang telah terjadi.”
“Kami menemukan mayat di
tempat yang sama dengan tiga hari yang lalu. Hanya saja sekarang adalah seorang
gadis berusia 20 tahunan. Dia juga dari keluarga Fujikaze. Namanya Fujikaze
Ao. Dia
adalah kakak dari Ozawa. Kondisi fisik yang kami temukan sama dengan saudaranya
saat ditemukan. Ada mawar di samping tubuhnya. Hanya saja ini 2 tangkai. Di
dadanya ada bekas tusukan benda tajam tepat di jantung sebelah kirinya. Sebuah
tikaman dari pisau bermata tiga rupanya telah membuat nyawanya melayang.”
“Kenapa bapak tahu itu
tikaman pisau bermata tiga?” El bertanya menyela.
“Polisi telah
mengotopsi jenazahnya dan mengatakannya seperti itu. Tapi sayangnya senjata
mengerikan itu sampai sekarang belum ditemukan. Seluruh penduduk di sini sudah
diperiksa namun belum ada hasil yang memuaskan.”
“Berarti pelaku
pembunuhan itu belum terangkap Pak?”
“Belum.”
“Tapi sepertinya saya
tadi tidak menemukan seorang polisi pun melintas atau setidaknya mengamati para
penduduk dan aktivitas mereka.”
“Iya itu wajar. Karena kasus itu sudah ditutup dua hari
yang lalu. Orang tua korban yang adalah orang terkenal di seluruh pelosok
negeri ini tidak mau namanya tercoreng dalam dunia bisnis hanya kasus kematian
anaknya yang tidak wajar alias dengan cara pembunuhan itu. Apalagi polisi
disini dalam menangani kasus pembunuhan seperti itu sangat lamban.”
“Oh sudah ditutup yah?
Ya itu sangat wajar jika dia orang tua yang tidak peduli dengan anak-anaknya.”
Ujar El tanpa ekspresi sambil menatap pohon yang berbentuk gapura di
seberangnya.
Bapak itu terkejut
dengan kata-kata yang barusan El katakan. Matanya sedikit melotot karena
tersinggung. El lalu berjalan ke arah ‘gapura’ yang tadi dilihatnya. Tak peduli
bagaimana ekspresi orang yang di belakangnya itu. Kedua tangannya dimasukkan ke
saku celananya dan melangkah dengan tenang ke sana.
Dia baru melihat ada sebuah
gapura di vila lamanya. Seingatnya dulu waktu dia masih tinggal disini tak ada
pohon gapura seperti itu. Matanya mengamati pohon itu dari dekat. Gapura itu
tersusun dari pohon hias yang dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai sebuah
gapura atau gerbang pintu masuk. Bagian atasnya menjulang lancip menyerupai
mahkota dan terdapat bunga-bunga kecil di sekelilingnya.
Bagian luar dari
gapura itu berbatasan dengan tebing yang dalam. Ada jalan setapak untuk
menyusurinya. Jalan itu dibatasi dengan sebuah kawat besi berduri sepanjang
tepinya. Kawat itu tipis namun kuat. Kalau tidak berhati-hati bisa melukai kaki.
“Mau kemana nak?”
tanya bapak itu tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
El menengok ke
arahnya. “Mau ke sana, Pak. Sepertinya ada sesuatu yang memanggilku ke tempat itu”,
jawabnya menunjuk ke tempat rerimbunan semak belukar. Bapak itu terkejut karena
di tempat itulah dia dan istrinya menemukan kedua mayat kakak beradik keluarga
Edward.
“Ke sana?” tanyanya
tak percaya. El mengangguk sambil melangkah ke depan.
“Hati-hati, Bapak
temani ya”. Akhirnya berdua dengan bapak itu El menyusuri jalan setapak menuju ke
tempat dua mayat yang ditemukan dalam seminggu ini.
Tiba-tiba dalam jarak
tak lebih dari 2 meter angin berhembus ke arah mereka dan membawa sebuah aroma
yang tak asing bagi laki-laki tukang kebun itu. Mereka mencium sesuatu yang
aneh. Bau mawar yang harum menyengat. Tepat di bawah kamar tamu yang sekarang ditempati
Rein dan Rahula. El mempercepat langkahnya mendekati semak-semak itu. Sesuatu
yang mengkilap memantulkan cahaya matahari senja.
“Aaaahh!!!!” Rahula
berteriak keras di tepi jendela yang terbuka itu. Matanya melotot ke bawah dan
tangannya bergetar hebat hingga tempat bedak yang dipegangnya jatuh tepat di
hadapan El.
“Ada apa Ra?” Rein
yang sedang menyisir rambutnya sehabis mandi di depan cermin berhenti sejenak
melihat sahabatnya itu berteriak seperti orang ketakutan.
“Woi jangan ngagetin
gitu dong?” teriak El dari bawah karena hampir saja bedak itu mengenai
kepalanya.
Rein segera mendekat
ke Rahula dan melihat apa yang ada di bawah sana. Dia melihat El bersama seorang
laki-laki yang berpakaian kotor penuh lumpur yang dikenalnya sebagai tukang
kebun di vila ini.
“El? Kenapa kamu di
situ?” tanya Rein dengan sedikit keras.
El mendongakkan kepala
ke atas, menatap mata gadis yang bertanya itu. “Ada sesuatu yang membuatku ke
sini” jawabnya tegas. Seolah mengerti bahasa mata El, Rein pun segera menyusul
ke tempat El. Rahula tak mau kalah. Dia pun mengikuti Rein di
belakangnya.
“Ada apa El?” tanya Rein setelah sampai di bawah kamar
mereka.
“Kamu mencium
sesuatu?” El balik bertanya. Matanya mencari-cari sesuatu di sekitar rerimbunan
semak.
“Iya. Aku mencium
sesuatu yang baunya seperti.... astaga! Mawar! Mawar dalam hutan?” kalimat
terakhirnyalah yang membuat lainnya mengernyitkan dahi.
El mengangguk. Lalu dia
maju satu langkah ke depannya, berjongkok di atas batas kawat berduri itu dan
menyibak semak yang tebal itu dengan sebuah ranting besar yang ada di depannya.
Sebuah pemandangan mengerikan terhampar di depan keempat orang itu. Rahula
menjerit tertahan.
Seorang laki-laki berjas
rapi tergeletak dengan kepala terkulai, tubuhnya bermandikan darah. Sebuah
peluru sepertinya telah menembus jantungnya sehingga membuatnya langsung tak
bekerja untuk selamanya. Matanya melotot ke atas dan mulutnya membuka seperti
hendak mengatakan sesuatu yang terhenti sebelum terucapkan.
“Siapa dia Pak?” tanya
El kepada bapak yang di belakangnya. Laki-laki itu mendekat hendak
menyentuh mayat itu namun segera dicegah El.
“Jangan sentuh apapun
di sekitar sini” katanya kepada bapak itu.
Rein terlihat sedang
menelepon kantor polisi setempat. Rahula memotret kondisi korban dengan kamera
handphonenya. Laki-laki tua itu kelihatan sangat terpukul.
“Apa yang akan aku
katakan kepada tuan Marfin jika beliau tahu disini telah ditemukan mayat sampai
ketiga kalinya?” bapak itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan
suaranya terdengar begitu takut dan khawatir.
El mendekat kepadanya
dan memegang pundaknya untuk menenangkannya. “Sudahlah pak. Semua ini bukan
salah bapak. Otousan pasti akan mengerti,” katanya sambil tersenyum untuk
meyakinkan laki-laki yang sudah mulai renta itu.
“Sebentar lagi polisi
akan datang, El” kata Rein sambil melipat handphonenya.
“El, apa segini sudah
cukup untuk memberi petunjuk kita?” tanya Rahula gantian menyerahkan
handphonenya ke El. El menerimanya dan melihat beberapa foto yang telah diambil
Rahula,
lalu mengangguk.
“Bagus. Sekarang kita
tinggal menunggu polisi untuk mencari penyebab kematiannya. Eh iya pak, siapa
nama korban ini?” tanya El tanpa melihat kepada orang-orang di dekatnya.
Matanya memperhatikan mayat itu dengan seksama. Dikeluarkan sebuah notes kecil
dari saku celananya.
“Pemilik perusahaan
terbesar, Kin Fujikaze” jawab bapak itu tanpa melihat El. Matanya berkaca-kaca.
El mencatat nama itu
di notesnya kemudian memperhatikan mayat itu lagi. Dahinya berkerut saat
melihat mawar. Dia jongkok mengamati mawar yang berjumlah 7 tangkai di samping
jenazahnya. Lalu dia pun mencatat beberapa kata ke dalam notesnya.
“Kenapa ada mawar
disini?” celetuk Rein saat matanya melihat ada seikat mawar di samping korban.
“Bloody Rose” jawab El
sepontan.
“Bloody Rose? Sepertinya
familiar”, Rein mengerutkan keningnya mengingat nama itu.
“Itu adalah senjata
yang digunakan Zero dalam VK kan? Sejenis revolver kaliber tiga puluh delapan”, kata Rahula
yang sangat menyukai film animasi tentang Vampire itu.
“Ah ya, aku pernah
melihatnya sekali di netbookmu waktu itu”.
“Lalu apa yang akan
kita lakukan sekarang?” Rahula bertanya tepat saat bunyi sirine polisi mendekat
ke vila mereka.
“Kita biarkan mereka menyelidiki tempat ini dulu”, jawab
Rein melihat ke arah sirine itu datang.
“Setelah mereka baru
giliran kita ‘beraksi’ ”, tambah El. Rein dan Rahula mengangguk setuju.
Sementara itu satu
unit mobil polisi memasuki halaman depan
vila itu. Dengung sirinenya sudah berhenti. Seorang polisi berseragam mengetuk
pintu dengan agak keras.
“Selamat sore. Apa
benar ini vila keluarga Marfin?” tanya seorang polisi yang tadi mengetuk pintu.
“Selamat sore. Iya
benar. Ada yang bisa saya bantu bapak?” jawab bibi yang membukakan pintu dengan
sedikit terkejut.
“Kami tadi mendapat
laporan bahwa disini telah ditemukan sebuah mayat laki-laki di samping jurang.
Apa benar?”
“Iya pak, itu benar.”
Tiba-tiba El muncul dari halaman samping.
“El?” tanya polisi
yang tinggi dan tampan itu.
El menggeleng memasang tampang datar.
“Kamu El kan?” tanya polisi
itu
mengulang.
El perlahan tersenyum
dan mengangguk.
“Ah kau tambah besar
sekarang ya El?” polisi yang di dadanya bertuliskan nama George Sign itu
mendekat lalu memeluk El.
Rahula terbengong-bengong
melihat wajah polisi itu. Tampan
bangeeet...! jantungnya berdesir.
“eh ya, ini Rahula dan
Rein. Temanku di akademik” El memperkenalkan kedua temannya kepada G. “Ini
temanku saat kecil Re, Ra” dia pun memperkenalkan G kepada temannya. Rein dan Rahula
berjabat tangan sebentar.
“Eiya El, dimana kamu
menemukan mayat itu?” tanya G saat perkenalan mereka dikira sudah cukup.
“Di samping sana.
Lebih baik sekarang kita ke sana,” kata El sambil menunjuk ke arah datangnya
dia tadi.
“Baik, sekarang kita
ke sana”.
Dia pun mengomandoni
agar anak buahnya segera menuju ke tempat yang telah ditunjuk El.
Sementara anak buahnya
memeriksa seluruh tempat kejadian perkara dirinya menanyakan seputar kronologis
kejadian bagaimana ditemukannya mayat tersebut kepada El dan teman-temannya di
ruang tamu.
“Kami sudah mengambil
foto kondisi mayat itu ditemukan,” kata El sambil menyerahkan handphone Rahula
kepada polisi itu.
“Bagus. Ini akan
sangat membantu kami. Tapi kami akan tetap memotret TKP tersebut.” Ujar G
kelihatan bertambah tampan saat serius. “Emm tapi kenapa kalian bertindak begitu jauh sebelum
polisi datang?”
“Karena kami memiliki
izin legal dari pemerintah untuk melakukan hal tersebut”, jelas El tapa ragu.
“Izin legal?
Maksudnya?” tanya polisi G, bingung.
“Kami adalah murid
akademi sekolah detectif di kota ini. Jadi kami pun sudah mendapat izin dari
pemerintah untuk ikut campur jika ada kejadian pembunuhan seperti ini”
jelasnya.
“Begitu yah? Baik.
Berarti kalian bisa membantu kami dalam menyelidiki kasus ini”
“Baik”.
“Nah sekarang siapa
saja yang tinggal disini?”
“Hanya bibi dan
bapak”.
“Siapa yang kamu maksud bibi dan bapak itu?”
“Bibi itu yang
mengurus vila ini sejak keluargaku pindah ke kota. Dia juga yang tadi
membukakan pintu. Sedangkan bapak adalah suami bibi yang juga tukang kebun di
sini,” jelas El.
“Bisakah kamu
memanggilkan mereka El?”
“Baik.” Kemudian El ke
belakang dan memanggil keduanya.
Seorang polisi masuk
dan melapor.
“Lapor, Pak. Korban
diduga meninggal satu jam yang lalu dikarenakan sebuah peluru yang ditembak
dari pistol revolver kaliber tiga puluh delapan menembus dadanya.”
“Baik. Terima kasih.
Lanjutkan penyelidikan di tempat sekitar lokasi kejadian”
“Baik.” Kemudian
polisi itu pergi.
Tak lama kemudian El
datang bersama bibi dan laki-laki yang dipanggil El sebagai bapak itu. Setelah
duduk keduanya ditanya satu persatu.
“Siapa nama bibi?”
tanya G sambil mencacat di notesnya.
“Sybil Harlan” jawab
bibi dengan takut-takut.
“Umur?”
“Empat puluh lima
tahun”
“Status?”
“Menikah”
“Nama suami?”
“Harlan Doxey”
“Sudah lama kerja di
sini?”
“Iya”
“Apa yang bibi lakukan
satu jam yang lalu?”
“Saya di dapur
membereskan sisa makan siang kami lalu memasak makanan untuk makan malam.”
“Apa ada saksi yang
melihat anda di dapur?”
“Ada. Saat itu saya
akan ke kamar mandi dan saya melihat bibi di dapur sedang memasak,” jawab Rein
spontan. Dia berdiri di dekat jendela yang menghadap ke arah halaman depan.
“Baik. Lalu apakah
anda mengenal korban ini?” tanyanya kepada bibi.
“Iya. Dia adalah
pemilik perusahaan terbesar di kota ini. Kin Fujikaze.” Jawab bibi sambil
menunduk.
“Kenapa anda menjawab
dengan menunduk bi?”
“Aaa.... tidak..”
wajah bibi terlihat gugup dan takut.
“Ada apa bi? Katakan
saja yang sejujurnya,” desak El.
Bibi diam sebentar
sebelum menjawab.
“Dia itu... maksud saya...
Kin Fujikaze itu.. adalah orang yang sombong dan egois.. Banyak orang yang tidak
menyukainya sejak peristiwa itu.” Terang bibi dengan agak sedikit tersendat.
“Peristiwa apa?” tanya
El antusias.
“Peristiwa 3 tahun
yang lalu, yang menyebabkan sopir pribadinya tewas mengenaskan.”
“Bagaimana ceritanya?”
giliran G yang bertanya.
“Waktu itu... saat itu.. saat usahanya belum begitu maju seperti
sekarang, dia mempunyai seorang sopir pribadi yang bernama Jonathan Samuel. Hari itu adalah
hari yang naas baginya. Tepat pada saat Valentine Day. Waktu itu adalah hari
libur baginya dan dihabiskannya bersama keluarga. Meskipun hanya seorang supir
namun bayarannya adalah lebih dari cukup. Dia mampu menghidupi kedua anaknya
dan seorang istrinya yang bekerja sambilan menjadi seorang penjahit.” Bibi
berhenti sebentar untuk menarik nafas lalu melanjutkannya kembali. Tak ada
yang menyela.
“Hari itu dia
menghabiskan waktu liburnya dengan bersenang-senang dengan keluarganya ―hal
yang jarang dilakukannya bersama keluarga tercinta― dia disusul oleh salah
seorang rekannya yang tukang kebun di keluarga Edward itu juga. Rekannya itu
mengatakan bahwa dia disuruh untuk mengantarkan keluarga majikannya ke puncak.
Dia tidak bisa menolak perintah itu karena dia merasa berhutang budi pada
keluarga Edward yang telah mengangkat derajat perekonomian keluarganya meskipun
istrinya, Rose Samuel melarangnya karena alasan liburan. Samuel tetap
bersikeras untuk melaksakan perintah itu juga karena dia tahu kalau tuannya
Edward Street itu adalah orang yang kemauannya harus terpenuhi. Akhirnya
walaupun dengan berat hati Rose melepaskan suami tercintanya itu.”
El sedikit terkejut
saat mendengar nama istri Samuel itu. Dahinya berkerut sampai dalam. Tapi
sesaat wajahnya terlihat biasa kembali. Telinganya kembali mendengar cerita
bibi dan sesekali menulis sesuatu di notes kecilnya.
“Saat hampir sampai di
puncak ini sebuah tragedi melanda satu mobil keluarga itu” lanjut bibi. ”Sebuah
truk pengangkut barang ke kota menabrak mobil tersebut. Semua yang ada di dalam
mobil itu mengalami luka berat kecuali si sopir yang langsung tewas di tempat
kejadian karena mengalami pendarahan hebat. Saat mendengar kabar bahwa suaminya
meninggal dalam kecelakaaan itu Rose langsung tak sadarkan diri dan kehilangan
ingatannya. Dia sempat gila selama satu tahun dan menghuni di rumah sakit jiwa
karena dinilai membahayakan orang lain. Dia hampir mencekik anaknya sendiri.
Sejak saat itulah Rose diungsikan ke RSJ untuk mendapat perawatan yang baik.”
“Satu tahun kemudian
dia sembuh dan kembali hidup bersama keluarganya, kecuali tanpa suami
tercintanya itu. Dia berjuang untuk memenuhi kewajibannya sebagai orang tua dan
menyekolahkan anak-anaknya. Dia kembali membuka usaha lamanya sebagai seorang
penjahit. Karena hasil jahitannya memuaskan dari hari ke hari order menjahitnya
semakin banyak dan melesat. Lama kelamaan usahanya pun berkembang dengan pesat.
Dia menyerahkan usahanya itu kepada putri sulungnya dan dia sendiri tiba-tiba
menghilang entah kemana. Tak ada orang yang tahu keberadaanya hingga sekarang.”
“Apakah anaknya tidak
ada yang tahu tentang keberadaanya bi?” tanya Rein.
Bibi menggeleng. El
terlihat sibuk mencatat di notesnya. Tiba-tiba dia menegakkan kepalanya dan
menatap bibi dengan wajah dinginnya.
“Apa bibi punya
fotonya?”
Bibi mengangguk. “Iya.
Dia adalah teman bibi sewaktu SMA dulu. Sebentar bibi ambilkan” kemudian dia
pergi ke belakang.
“Baiklah. Sambil
menunggu ibu Sybil saya akan menanyakan beberapa hal kepada bapak.” Kata G
dengan formal. Laki-laki itu mengangguk.
“Siapa nama lengkap
bapak?” tanyanya memulai interogasinya.
“Harlan Smith”.
“Usia?”
“Empat puluh delapan”
“Anda tinggal di sini
bersama dengan istri anda?”
“Iya.”
“Baiklah. Apa yang
anda lakukan pada pukul 16.30 tadi?”
“Saya bercengkerama
dengan El di taman belakang”. El mengangguk tanda membenarkan.
“Apa anda mengenal
korban?” lanjut G.
“Iya.”
“Ada yang anda ketahui tentang korban ini?”
“emm.. tidak” wajahnya
agak sedikit menunjukkan keragu-raguan di mata El. Tapi suaranya terdengar
meyakinkan.
Tak lama bibi pun
datang membawa sebuah foto lamanya dan menyerahkannya kepada El. El
mengamatinya dengan seksama. Hal pertama yang membuatnya tertarik pada foto itu
adalah warna silver pada mata dan rambut seorang wanita yang berpose di depan
pantai itu. Bentuk matanya yang unik terlihat dingin membuatnya teringat pada
Kurenai Maria pada film Vampire Knight yang pernah dilihatnya.
“Boleh aku membawanya
untuk dokumentasi El?”
“Iya. Tapi saya akan
membuat duplikatnya dulu sebentar.” El pun masuk ke kamarnya dan mengambil laptop
kecilnya. Dia lalu mengaktifkan webcam dan meletakkan foto itu di depan kamera
kemudian memotretnya.
“Ini kalau mau kamu
ambil” katanya sambil menyerahkan foto itu ke tangan G.
“Baik. Terima kasih.
Untuk sementara semua penghuni di vila ini diharap tidak meninggalkan vila
tanpa alasan yang jelas karena untuk malam ini akan ada polisi yang mengawasi
TKP 24 jam. Berhubung hari sudah semakin senja kami akan melanjutkan pencarian
esok hari.”
“Baik.”
Namun saat polisi itu
hendak keluar anak buahnya masuk dan memberi laporan.
“Lapor komandan. Kami
menemukan sebuah pisau bermata tiga di antara semak belukar itu. Ada sebuah
noda darah yang sudah mengering di ujung benda tersebut. Namun bisa dipastikan
bahwa darah itu bukanlah darah korban sekarang”, kata polisi itu sambil
menyerahkan sebuah pisau yang terbungkus rapi di dalam sebuah plastik sedang.
Pisau itu memantulkan cahaya lampu di ruangan tersebut. El mendadak teringat
sesuatu.
“Dimana posisi pisau
ini saat ditemukan?” tanya El tiba-tiba.
“Diantara rerimbunan
semak belukar itu”.
“Bolehkah kami kesana
untuk menyelidikinya?”
“Yah. Kami sudah
selesai memeriksa tempat tersebut. Tapi orang lain yang tidak berkepentingan
dilarang memasuki wilayah tersebut.”
“Baik. Kami mengerti”.
Lalu mereka berlima
pun menuju tempat kejadian perkara. El sepertinya mencari-cari sesuatu.
“Kamu mencari apa El?”
tanya komandan G.
“Apa anak buahmu tadi
menggunakan sebuah tambang untuk menuruni tebing ini?”
“Apa begitu Ky?” G
gantian bertanya pada anak buahnya yang tadi melapor.
“Iya”
“Memangnya kenapa El?”
tanya G penasaran.
Kalian tidak melihat
ada tangga di sini?” El balik bertanya kepada polisi yang bernama Ocky itu.
“Tidak. Kami tidak
melihatnya” jawabnya.
“Sepertinya ada sebuah
bekas tangga disini”, kata El sambil melihat ke tebing bawah.
“Kenapa?”
“Pakaian mayat itu
terlihat rapi tanpa cacat. Tapi mengapa hanya di tubuh bagian belakangnya yang
penuh dengan darah?”
“Apa benar begitu Ky?”
“Benar.”
“Lalu bagaimana
menurutmu?” tanya G pada El.
“Entahlah. Kalau
tangga itu tidak ditemukan berarti teoriku gagal untuk saat ini”, jawab
El tanpa ekspresi.
“Ya sudah, kita
lanjutkan besok saja”, kata G menenangkan El.
El pun mengangguk.
Mereka meninggalkan TKP kemudian berpisah. George ke mobilnya lalu kembali ke
markasnya di pusat kota, sedangkan El, Rein dan Rahula masuk ke dalam rumah.
El mengambil laptopnya
kemudian mengetikkan hipotesisnya terhadap kasusnya kali ini. Rein duduk dengan
tenang tanpa mengganggu El. Sedangkan Rahula berjalan mondar-mandir di ruang
tamu itu.
“Ternyata benar firasatku.
Ada sesuatu yang aneh sejak tadi siang.” Gumamnya pada diri sendiri.
“Kenapa Ra?” El
mengalihkan pandangannya dari laptop ke sahabatnya itu.
“Apanya?” Rahula tidak
tahu apa yang dimaksud El.
“Apanya yang aneh?”
ulang El.
“Sejak kita sampai
disini tadi sore aku mencium sesuatu yang berbau kematian. Mawar ini seperti
pertanda kematian bagi seseorang.. dan kehancuran.” Rahula menerawang jauh
entah kemana. El terdiam dengan kata-kata Rahula barusan. Rein hanya tersenyum
simpul.
“Bisa kau ceritakan
lebih detail, Ra?” pinta El. Kening Rein berkerut heran.
Rahula mengangguk.
Ternyata El mengerti isyarat katanya. El siap mengetikkan setiap kata yang
keluar dari cerita Rahula.
“Saat pertama kali
melihat keluar jendela kamar itu aku melihat sesuatu yang bergerak-gerak terus
seperti pohon yang tertiup angin. Semak belukar itu bergoyang goyang ke arah
dalam dan keluar. Biasanya benda kalau tertiup angin bergeraknya bukan ke arah
dalam atau ke arah luar melainkan ke kiri ataupun ke kanan. Tapi saat itu aku
melihat gerakannya ke dalam dan ke luar, seolah dari bawah itu ada sebuah
tiupan angin yang membelai-belai semak
belukar itu. Kata bibi di bawah sana ada sebuah jurang yang curam sehingga aku
tidak lagi berpikir bahwa di bawah semak itu ada sebuah ruangan yang mungkin
angin itu berasal. Itu teoriku.” Jelas Rahula panjang lebar.
El terlihat sibuk
dengan laptopnya. Rahula duduk menyandar di seberang El, di samping Rein.
“Apa kamu masih
penasaran dengan teorimu itu Ra?” tanya El tiba-tiba.
Rahula mengerjapkan
matanya bingung. “Apa maksudmu?” tanyanya.
“Apa kamu ingin
membuktikan bahwa teorimu itu benar?” ulang El.
Rahula menatap Rein
yang menjawab dengan mengangkat bahunya.
“Kalau aku ingin
membuktikan kebenaran teoriku. Aku akan ke sana dan mencari kebenaran itu tanpa
harus menunggu esok hari”, kata El sambil mengemasi laptopnya dan siap pergi.
Rahula terlihat ragu
sebentar kemudian dengan mantap menganggukkan kepalanya. “Aku akan ikut
denagnmu” katanya akhirnya.
“Baik. Sekarang
persiapkan penyelidikan kita.” Kata El sambil memberikan sebuah kertas kepada
Rahula lalu kemudian dia pergi ke kamarnya.
Bawa lampu badai dan tembakan angin selalu di
sakumu. Kita akan melewati badai itu bersama-sama.
Wajah Rahula memerah
sedetik setelah membaca tulisan itu. Rein berdiri lalu ke kamar mempersiapkan
diri kemudian disusul Rahula.
“Bawa tembakan anginmu, Re” kata Rahula lirih saat dia
berada di samping Rein. Rein mengangguk mengerti dan menepuk-nepuk pinggang
kanannya.
Setelah siap mereka
pun keluar dan menuju TKP. Tak ada polisi yang menjaga daerah tersebut.
“Kemana polisi-polisi
itu?” tanya Rahula heran.
“Biasa. Mereka tidak
akan menjaga kalau tidak dibayar”, jawab El gampang.
Setelah sampai di TKP
mereka menyalakan lampu badai masing-masing.
“Pertama-tama kita
harus menemukan senjata itu dulu” kata El dengan tenang dan pelan.
“Senjata apa
maksudmu?” tanya Rein.
“Revolver kaliber 38”
jawab Rahula yakin. El mengangguk membenarkan. Rein pun mengangguk tanda paham.
“Sepertinya disini lah
angin itu berasal”, kata Rahula tiba-tiba saat melihat bekas rimbunan semak
yang sudah dipangkas oleh polisi.
El mengangguk kemudian
mengambil sebuah ranting di dekat kakinya. Ditancapkan ranting itu di tempat
yang ditunjukkan Rahula hingga sampai ujung ranting itu tak bisa lagi masuk ke
dalam tanah. Kemudian dia mengambil ranting lain dan melakukan hal serupa di
tempat lain sampai tiga kali. Lalu dengan lampu badainya dia melihat berapa
kedalaman tanah yang dicapai ranting itu.
“Kau benar, Ra. Ada
sebuah ruangan dibawah sini”, kata El tiba-tiba sehingga membuat Rahula agak
tersentak.
“Maksudmu?” tanya
Rein.
“Ada sebuah ruangan di
bawah sini. Kita akan masuk sekarang”, kata El mantap.
“Bagaimana?” tanya
Rahula setelah kagetnya hilang.
“Coba kau bayangkan
jika ada sebuah ruangan bawah tanah di sini maka akan kemanakah arahnya?” tanya
El kepada kedua temannya itu.
“Yang jelas tidak
mungkin ke vila kamu”, jawab Rahula spontan.
“Kenapa?” tanya Rein.
“Karena itu akan
membentuk sudut 45 derajat dan tidak mungkin seorang wanita membawa laki-laki
sebesar korban itu mendaki tangga yang curam”, jelas Rahula.
“Tunggu! Kamu tadi
mengatakan seorang wanita? Kamu sudah tahu pelakunya?” Rein makin bingung
dengan kawannya itu. Rahula mengangguk.
“Bagaimana....”
kata-kata Rein terpotong saat El terlihat mengatupkan bibirnya dengan telunjuk
tangannya.
“Nanti aku jelaskan di
vila. Sekarang kamu bantu aku untuk membuka pintu masuk ini.” Kata El sambil
menancapkan tiga buah pencongkel pintu dalam garis lurus di atas tanah.
Masing-masing mereka memegang 1.
“Siap...” tanya El kepada
keduanya. Mereka mengangguk. “Tarik!” aba-aba El membuat keduanya serentak
menarik pencongkel itu. Lalu mereka mundur dan melihat apa yang selanjutnya
terjadi.
Perlahan tanah itu
terangkat ke atas. Bau mawar itu tercium kembali. Kali ini begitu pekat seakan
ada ratusan mawar yang sama. El menutupi hidungnya dengan masker yang
dibawanya. Rahula yang menyukai bau mawar tenang-tenang saja tanpa masalah.
Setelah pintu terbuka
sempurna terlihat sebuah anak tangga terhentang di bawah sana. Gelap tak ada cahaya.
Perlahan Rahula mulai masuk dan melangkah ke anak tangga pertama.
“Hati-hati agak licin”
ingatnya kepada El dan Rein yang masih ada di atas.
Lalu setelah Rahula
menginjakkan kakinya di anak tangga ke dua barulah Rein turun mengikuti. El
menyusul terakhir.
“El, disini datar lalu membelok”, kata Rahula berbisik
kepada El. Namun karena di situ ruangan hampa jadi suaranya yang berbisik
seperti suara lirih.
“Sudah aku
perkirakan”, jawab El dengan tenang dan segera menghampiri kedua temannya.
“Tapi tak ada bekas
darah disini” Rein yang sejak tadi diam angkat bicara.
Rahula segera membuka
botol alkohol lalu menuangkan sedikit diatas lantai datar itu. Ada semacam
gelembung di lantai itu.
“Ternyata dia
mengganti pakaiannya disini.” Kata El tiba-tiba.
Tak ada yang komentar.
“Kita harus cepat sampai di ujung ini” lanjutnya sambil memimpin berjalan
terlebih dahulu menuruni tangga selanjutnya.
Setelah sampai di
ujung anak tangga terakhir mereka dikejutkan dengan sebuah taman mawar yang
begitu luas. Mawar yang jumlahnya tak terkira banyaknya. Hanya satu spesies.
Wajah Rahula terlihat
begitu takjub karena seumur hidup dia baru melihat ada taman mawar di bawah
tanah. Apalagi ia merasakan hangat seperti di perapian di rumahnya.
“Ra, jangan lupa
tujuanmu ke sini” El mengingatkannya dari bayangan-bayangan rumahnya. Rahula
pun hanya mengangguk lalu melanjutkan perjalanan mereka menyusuri taman itu.
Namun tiba-tiba dia melihat sesuatu memancarkan cahaya lampu badainya dari
bawah pohon mawar-mawar itu. Didekatinya benda tersebut lalu diambilnya dengan
sapu tangannya.
“Ada apa Ra?” tanya
Rein yang berada di depannya.
“Bloody Rose” jawab
Rahula sambil memperhatikan pistol yang berada dalam genggamannya.
“Teorimu benar, Ra” El mengatakan
itu sambil tersenyum. Rahula mengangguk. Pistol itu disimpannya dalam saku
celananya lalu segera menyusul kedua temannya yang berjalan lebih dulu.
Sampailah mereka di
sebuah pintu kayu yang kokoh. Terdengar suara dari luar sana seseorang yang
sedang bercengkerama. El menempelkan telinganya di pintu tersebut sambil
mengatupkan bibirnya dengan jari telunjuknya kepada teman-temannya.
“Maaf, kami mendapat
perintah untuk meggeledah rumah Anda terkait dengan kasus pembunuhan yang
ditemukan di kota ini”, suara G terdengar tegas.
“Tapi saya tidak
terlibat! Saya punya alibi yang kuat untuk itu!” suara wanita itu terdengar
begitu ngotot.
“Kalau anda tidak
bersalah tidak usah ngotot seperti itu” jawab G dengan tenang.
“A... anu...” wanita
itu sepertinya kalah dengan argumen G.
“Baiklah. Sepertinya anda
tidak keberatan. Sersan, tolong segera geledah seluruh rumah ini!”
“Baik.”
“Giliran kita,”
instruksi El kepada kedua temannya. Rein dan Rahula mengangguk. El menyuruh
kedua temannya untuk menembakkan tembakan angin di pintu itu. Satu persatu lalu
kemudian bersamaan hingga membuat suara gaduh dari luar sana.
“Sepertinya ada suara
di balik dinding ini, Komandan.” lapor sersan yang tadi ditugaskan G untuk
menggeledah rumah tersebut.
“Suara apa?” Komandan
G pura-pura tidak tahu. Padahal dia sudah tahu bahwa itu adalah isyarat dari
kelompok El.
“Seperti sebuah
tembakan yang bertubi-tubi”, jelas sersan tersebut.
Wanita itu terlihat
ketakutan dan gugup.
“Disana tidak ada
apa-apa!” jerit wanita itu.
“Saya tidak menanyakan
apakah di sana ada sesuatu atau tidak.” Kata G dingin.
“Saya hanya akan bertanya, bagaimana cara membuka dinding
ini?” lanjutnya dengan tatapan mengancam kepada wanita yang tubuhnya sangat
menantang itu. Wanita itu kini benar-benar ketakutan. Tubuhnya bergetar dan
wajahnya terlihat pucat.
“Lapor komandan! Ada
sebuah lubang di dinding itu. Diguga itu adalah lubang kunci untuk membuka
dinding itu”, anak buahnya yang lain melapor kepadanya.
“Bagus. Gunakan kunci
maling untuk membukanya” perintah G kepada anak buahnya itu.
“Baik.”
Namun sebelum polisi
itu berhasil membuka dinding, dinding itu bergerak ke samping dengan perlahan.
Semua polisi yang berada di situ terpana. Bau mawar merah menyeruak ke ruangan
tersebut. Wanita itu berusaha melarikan diri. Namun sayangnya tangan G yang
panjang dan kuat berhasil meringkus kembali wanita itu.
El muncul dari balik dinding dengan wajah
tersenyum.
“Selamat El. Teorimu
berhasil dengan suskses”, G menjabat tangan sahabat kecilnya itu dengan erat.
El hanya mengangguk kecil. Rein masih sedikit penasaran dengan penjelasan kasus
itu.
“Wanita itu yang telah
melakukan ketiga pembunuhan keji pada akhir minggu ini, Re”, kata El
menjelaskan kepada Rein pada suatu pagi yang cerah di perjalanan pulang ke ibu
kota. “Motifnya balas dendam terhadap kematian suaminya tiga tahun yang lalu.
Kamu masih ingat dengan cerita bibi tentang Rose Samuel kan? Dia mengganti
namanya dengan Kelly Erle setelah berhasil kabur dari kedua anaknya dan menetap
di perbukitan itu menunggu waktu yang tepat untuk membalaskan dendam kematian
suami tercintanya”, lanjutnya. Rein mengangguk.
“Tapi kenapa kamu bisa
tahu bahwa wanita itu telah merubah namanya?” tanya Rein masih penasaran.
“Ada beberapa hal yang
orang tidak bisa merubah penampilan fisiknya meskipun dia berusaha merubahnya.”
Jawab Rahula dengan tenang.
“Contohnya?”
“Warna mata”, jawab El
dengan spontan.
“Tapi kan bisa pakai
softlens El?” protes Rein.
“Iya. Tapi apakah orang akan
terus menggunakan softlens itu Re? Adakalanya harus dilepas dan saat itu lah
identitas kita akan dikenal. Pun wanita itu. Aku pernah melihatnya di kereta
yang kita tumpangi waktu akan ke sana. Dia turun di stasiun yang sama dengan
kita dan ternyata vilanya ada di belakang kita. Saat itu dia tidak menggunakan
softlens dan mata silvernya yang unik sama dengan di foto bibi mengingatkanku
pada wanita itu. Juga dari korban pertama yang mengucapkan Rose berulangkali
mengingatkanku pdnya” El menjelaskan dengan detail kepda Rein.
“Tapi juga sidik jari
di pisau yang ditemukan
polisi di semak
itu sama dengan sidik yang ada di pistol miliknya” ujar Rahula. El mengangguk.
“Tapi yang paling
penting adalah jumlah mawar pada setiap korbannya”. Tambah Rahula dengan
setengah mengantuk.
“Jumlah mawar?” Rein
terkejut.
El mengangguk lagi.
“Aku tidak terlalu
memperhatikan mawar itu” aku Rein.
“Itulah kelemahanmu.
Terkadang apa yang terlihat tak penting adalah kunci dari pemecahan kasus itu”
ujar El tanpa melihat ke Rein. Rein membuang muka ke jendela luar jendela
kereta yang sedang gerimis. Malu.

“Uaaahh.. Liburan yang melelahkan!” keluh Rahula sambil menguap dan menggeliat.Tak lama
matanya pun terpejam sambil membayangkan Kaname dalam mimpinya.
The End
By :( Shizuka
Aozawa )